Pengusaha perempuan harus berani bersaing di pasar bebas ASEAN
Pengusaha perempuan anggota HIPMI sebagian besar berkecimpung di bisnis pariwisata, mikro dan ritel, PR konsultan.
Pengusaha perempuan yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) tidak mau kalah dengan pengusaha pria. Pengusaha perempuan juga menyatakan kesiapannya tampil dan bersaing saat pasar bebas ASEAN diberlakukan.
"Saya akui anggota HIPMI perempuan masih kecil hanya 5 persen dari 30.000 lebih anggota HIPMI,untuk itu pengusaha perempuan harus lebih berani tampil," ujar Ketua Bidang Internasional BPP HIPMI Hardini Puspasari yang ditemui di Munas HIPMI, Bandung, Senin (12/1).
Pengusaha perempuan yang menjadi anggota HIPMI sebagian besar berkecimpung di bisnis pariwisata, mikro dan ritel, PR konsultan, biro travel dan bisnis lain. Bisnis tersebut dinilai bisa bersaing dengan model bisnis dari negara lain.
"Semua bidang bisnis tersebut sesuai dengan digelarnya MEA 2015," kata dia.
Namun, Hardini menambahkan para pengusaha pemula di Indonesia masih memiliki kelemahan. Terutama dari sisi promosi, branding, marketing hingga pengemasan produk yang mampu menarik perhatian pangsa pasar.
"Nah, yang terpenting tentunya kami harus memiliki payung hukum berupa UU pengusaha pemula," ucapnya.
Baca juga:
Kuasai pasar Indonesia sama saja kontrol 43 persen ekonomi ASEAN
Jokowi tak berkutik dicurhati banjir produk China di pasaran
Menteri Saleh klaim sektor industri nasional siap hadapi MEA
Rendahnya pendidikan bikin tenaga kerja Indonesia terpinggirkan
Hadapi MEA, menristek akan setarakan perguruan tinggi Indonesia
Jokowi ingatkan pengusaha muda jangan takut hadapi MEA