Pengamat: Bisnis panas bumi butuh yang berpengalaman
"Pertamina sebenarnya juga sudah mengembangkan SDM-nya untuk bisnis ini (panas bumi)."
Pengamat energi dari Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman mengaku sependapat dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan yang mengkritik sikap PT PLN (Persero) yang berniat merambah lini bisnis tenaga panas bumi di tengah belum rampungnya masalah utama di distribusi ketenagalistrikan.
Menurutnya, energi panas bumi lebih baik dikembangkan oleh pihak yang berpengalaman. "Pertamina sebenarnya juga sudah mengembangkan SDM-nya untuk bisnis ini (panas bumi). Mereka sudah menyekolahkan SDM nya ke New Zealand," kata Yusri dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (28/10).
Menurut Yusri, Dinas Geothermal Pertamina pertama dibentuk 1974 dan pertama mengirim orang ke New Zealand Tahun 1979. Oleh sebab itu Yusri melihat, untuk soal panas bumi, Pertamina lebih ekspert.
Terbukti, perseroan sudah berhasil menangani proyek-proyek panas bumi seperti Gunung Rajabasa, Dieng, dan Lahendong. "Soal bisnis panas bumi jangan diutak-atik serahkan saja ke pertamina yang sudah pengalaman," ucapnya.
Yusri mendukung pernyataan Jonan agar PLN Fokus ke soal target transmisi 35.000 watt yang diberikan pemerintah. "Dalam kondisi sekarang ini, saya ragu PLN bisa fokus mengembangkan energi panas bumi," imbuhnya.
Sebelumnya, Jonan meminta PLN fokus terlebih dahulu membangun transmisi tenaga listrik dibanding mengurusi persoalan panas bumi.
Kritikan tersebut disampaikan Jonan terkait keinginan manajemen PLN masuk ke bisnis panas bumi. "Masalah utama distribusi tenaga listrik belum tuntas," kata Jonan.
Seperti diketahui, PLN berminat untuk mengakuisisi 50 persen saham PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) untuk kembali menggiatkan lini bisnis panas bumi. PLN pun diketahui akan ikut lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Salak dan Darajat milik Chevron.
Pada sisi lain, pemerintah menargetkan pembangunan transmisi pada megaproyek 35.000 MW bisa mencapai 46.597 kilometer (km). Saat ini sepanjang 16.079 km, atau 35 persen, sudah memasuki pelaksanaan konstruksi dan sepanjang 26.709 km sudah memasuki masa pra konstruksi. Sedangkan transmisi yang sudah beroperasi tercatat sepanjang 3.809 km, atau 8 persen dari target.
Baca juga:
PGE dinilai paling ideal ambil alih aset panas bumi Chevron
Melihat pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Prancis
PGE berhasil tingkatkan kontribusi pasokan listrik nasional
Cegah penyelewengan, ESDM ubah aturan lelang proyek panas bumi
Kementerian LHK akan kaji wacana eksplorasi panas bumi Gunung Lawu