Pemprov Jateng Optimistis Capai Target Bauran EBT Jawa Tengah 21,32 Persen Tahun Ini
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) optimistis bauran energi baru terbarukan (EBT) di wilayahnya akan mencapai target 21,32 persen pada akhir tahun ini, didukung oleh inisiatif industri. Pencapaian target EBT Jawa Tengah ini menunjukkan komit
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menunjukkan optimisme tinggi terhadap pencapaian target bauran energi baru terbarukan (EBT) di wilayahnya. Hingga akhir tahun ini, Pemprov Jateng menargetkan bauran EBT dapat mencapai 21,32 persen dari total penggunaan energi. Capaian ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan transisi energi yang berkelanjutan di tingkat regional.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko, mengungkapkan bahwa hingga tahun 2024, Jawa Tengah telah berhasil memanfaatkan 18,55 persen EBT dalam penggunaan energinya. Pernyataan ini disampaikan di Kabupaten Semarang pada Kamis, saat peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap Pabrik Semarang Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia. Transisi energi dinilai sebagai sebuah keharusan, bukan lagi sekadar pilihan.
Target ambisius ini telah tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 12/2018 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Provinsi Jateng. Beleid tersebut menetapkan target bauran EBT sebesar 21,32 persen pada tahun 2025 dan akan terus meningkat menjadi 28,82 persen pada tahun 2050. Upaya kolektif dari berbagai pihak, termasuk sektor industri, diharapkan mampu mengakselerasi pencapaian target tersebut.
Target Ambisius dan Capaian EBT Jawa Tengah
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara konsisten berupaya mencapai target bauran EBT yang telah ditetapkan dalam RUED. Dengan capaian 18,55 persen EBT hingga tahun 2024, Pemprov Jateng yakin dapat melampaui target 21,32 persen pada akhir tahun ini. Komitmen ini sejalan dengan visi keberlanjutan energi nasional dan global.
Sujarwanto Dwiatmoko menjelaskan bahwa berbagai potensi EBT sedang dikembangkan di Jawa Tengah. Wilayah aliran sungai di Banyumas menjadi fokus pengembangan mikrohidro, sementara energi bayu atau angin dieksplorasi di Demak dan Brebes. Selain itu, potensi energi panas bumi juga digarap di Wonosobo dan Tegal, menunjukkan diversifikasi sumber energi terbarukan di provinsi ini.
Usaha yang dilakukan Pemprov Jateng ini berjalan beriringan dengan inisiatif dari sektor swasta. Pelaku industri seperti CCEP Indonesia telah mulai memanfaatkan PLTS Atap di fasilitas produksinya. Sinergi antara pemerintah daerah dan industri ini menjadi kunci utama dalam mempercepat pencapaian target bauran EBT Jawa Tengah.
Peran Industri dan Dukungan PLN dalam Transisi Energi
Peran industri dalam transisi energi di Jawa Tengah semakin signifikan, dengan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia menjadi salah satu pelopornya. Peresmian PLTS Atap di pabrik Semarang CCEP Indonesia menjadi bukti nyata komitmen sektor swasta terhadap energi bersih. Inisiatif ini didorong oleh strategi keberlanjutan jangka panjang dan tuntutan pasar global.
Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Ritel PT PLN (Persero), Daniel Lestanto, menegaskan dukungan penuh PLN terhadap pengembangan PLTS Atap di sektor industri. PLN terus berupaya memenuhi kebutuhan instalasi PLTS Atap, bahkan telah mengakomodasi rekomposisi kuota PLTS Atap dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN. Hingga 2028, terdapat kuota pembangkitan PLTS Atap hingga 2 GWP.
Daniel Lestanto juga menyebutkan adanya daftar tunggu sekitar 375 MWp untuk PLTS Atap, menunjukkan tingginya permintaan dari industri. "Kami punya daftar tunggu sekitar 375 MWp (MegaWatt peak). Artinya, 'demand'-nya itu sudah ada dan harus bisa kami angkut semua, supaya bisa tercover. Harapan kami, industri-industri lain bisa mengikuti CCEP Indonesia," ujarnya. Ini menunjukkan potensi besar bagi pertumbuhan PLTS Atap di sektor industri.
Inovasi PLTS Atap CCEP Indonesia dan Dampak Lingkungan
Perkembangan jumlah pelanggan PLTS Atap di Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan, dengan daya terpasang mencapai 708 MWp hingga September 2025. Dari jumlah tersebut, 567 MWp di antaranya berasal dari sektor industri, menunjukkan tren positif adopsi energi bersih. Di Jawa Tengah sendiri, sekitar 2.000-2.500 industri telah memanfaatkan PLTS Atap dengan beban puncak sekitar 88 MWp.
Head of Sustainability CCEP Indonesia, Natasha Gabriella, menekankan bahwa keputusan perusahaan untuk beralih ke energi bersih adalah bagian dari strategi keberlanjutan. "Kami percaya jika kami ingin bisnis kami bertahan untuk jangka panjang, bukan hanya 5-10 tahun tapi mungkin hingga 100 tahun dari sekarang, memang harus dilakukan secara berkelanjutan," katanya. Ini mencerminkan pandangan jangka panjang industri terhadap praktik berkelanjutan.
PLTS Atap yang baru diresmikan di pabrik Semarang CCEP Indonesia dibangun di atas lahan seluas 13.722 meter persegi. Fasilitas ini dilengkapi dengan 2.197 modul surya berkapasitas 1,2 MWp, yang mampu memenuhi sekitar 17 persen kebutuhan energi harian pabrik. Pemanfaatan PLTS ini diperkirakan dapat menurunkan emisi hingga 1.700 ton karbon dioksida ekuivalen per tahun, memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan jejak karbon.
Director of Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia, Lucia Karina, menambahkan bahwa inisiatif energi bersih tidak hanya terbatas pada panel surya. Perusahaan terus menilai opsi lain untuk energi terbarukan. "Ini merupakan pabrik ketiga yang kami pasang PLTS Atap. Pertama, pabrik kami di Bekasi, kemudian Pabrik Pasuruan, dan ketiga Pabrik Semarang," jelasnya, menunjukkan komitmen berkelanjutan CCEP Indonesia dalam pemanfaatan EBT.
Sumber: AntaraNews