Pemerintah sebut impor cangkul bukti tak ada sinergi antar BUMN
Menurutnya, kasus impor cangkul yang ramai diperdebatkan akhir Oktober lalu memang cukup menohok. Meski jumlahnya kecil, fakta bahwa pemerintah menyetujui impor besi cangkul mengejutkan.
Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro mengaku impor cangkul merupakan bukti tidak ada sinergi antara perusahaan-perusahaan pelat merah. Kejadian tersebut ironis karena yang mengimpor dan membeli cangkul buatan China itu adalah sejumlah BUMN.
"Ironis karena republik ini tidak bisa hasilkan cangkul, padahal sudah bisa produksi helikopter dan suku cadang untuk Airbus. Ada pula sejumlah penemuan luar biasa dari kampus-kampus, tapi cangkul saja masih impor," ujar Aloy seperti dilansir Antara, Kamis (24/11).
Menurutnya, kasus impor cangkul yang ramai diperdebatkan akhir Oktober lalu memang cukup menohok. Meski jumlahnya kecil, fakta bahwa pemerintah menyetujui impor besi cangkul mengejutkan.
"Tapi dilihat dulu, cangkul itu buat apa? Ternyata kebutuhan paling besar untuk konstruksi. Ini yang harus dipikirkan, saat mendorong infrastruktur besar-besaran, ternyata cangkulnya kurang. Presiden mau 'groundbreaking' bagaimana?" tegasnya.
Dia menegaskan kasus impor cangkul harus menjadi pengingat atas pentingnya sinergi antar-BUMN. Terlebih impor cangkul dilakukan oleh perusahaan BUMN dan kemudian dibeli pula oleh BUMN.
"Ironis karena tidak ada sinergi antar-BUMN. Yang impor, BUMN. Yang beli juga dari BUMN, walaupun mungkin kebutuhannya mendesak," jelasnya.
Sebelumnya, diketahui bahwa Kementerian Perdagangan memberi alokasi izin impor kepala cangkul kepada PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Persetujuan izin impor kepala cangkul sebanyak 1,5 juta unit itu berdasarkan rekomendasi Kementerian Perindustrian.
Karena produksi dalam negeri bisa ditingkatkan, impor yang terealisasi hanya sekitar 86.000 unit, di mana kebutuhan nasional mencapai 10 juta unit per tahun. Atas kejadian tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan akhirnya menunjuk tiga perusahaan BUMN untuk memenuhi kebutuhan cangkul nasional yang jumlahnya mencapai 10 juta unit per tahun.
Ketiga BUMN tersebut yakni PT Krakatau Steel, PT Boma Bisma Indra dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia. Ketiga BUMN tersebut diharapkan dapat melaksanakan tugas segera dengan memaksimalkan peran industri kecil dan menengah (IKM) dalam memproduksi cangkul.
Baca juga:
Pengusaha khawatir holding BUMN bisa timbulkan monopoli usaha
Presiden Jokowi minta optimalisasi aset BUMN untuk kemajuan SDM RI
Belanja modal BUMN ditarget capai Rp 800 T dalam dua tahun
PGN miliki infrastruktur gas bumi dari Riau hingga Jawa Timur
Pengamat: Rencana Rini bentuk holding BUMN Migas harus dibatalkan
Ini cara anyar Pertamina antisipasi kecurangan takaran BBM di SPBU
Kisah lucu petugas SPBU, ada pembeli gadai KTP untuk beli bensin