Pemerintah diminta bangun ekonomi sehat bebas dari rokok
Lebih dari 53,75 juta orang dewasa dan 2,6 juta anak mengkonsumsi tembakau setiap hari di Indonesia.
Wakil Kepala Lembaga Demografis Universitas Indonesia Abdillah Ahsan berharap upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan konsumsi rokok masyarakat bisa mengurangi jumlah prokok di Indonesia dan membangun pertumbuhan ekonomi yang sehat.
Berdasarkan data dari The Tobacco Atlas, lebih dari 53,75 juta orang dewasa dan 2,6 juta anak mengkonsumsi tembakau setiap hari di Indonesia. Dari angka 2,6 juta, 41 persen anak laki-laki dan 3,5 persen anak perempuan menjadi perokok aktif sejak umur 12 tahun.
"Jika saat jadi pelajar saja mereka sudah merokok, maka 10 tahun lagi saat mereka sudah memasuki usia kerja tubuhnya sudah sakit-sakitan karena rokok. Dan ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kita," kata Abdillah di gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (2/9).
Dia mengimbau agar pemerintah bisa melakukan berbagai upaya lebih agar masyarakat bisa mengurangi konsumsi rokok, dan menjaga kesehatan mereka. Menurutnya, masyarakat yang sehat bisa menghasilkan pendapatan lebih banyak bagi negara dan memajukan ekonomi Indonesia.
"Yang harus kita bangun itu pertumbuhan ekonomi yang sehat. Tidak ada gunanya ekonomi tinggi kalau jumlah penyakit naik. Dengan kita mengendalikan konsumsi rokok maka masy akan sehat. Dan masyarakat yang sehat akan jauh lebih bermanfaat bagi ekonomi karena akan lebih efektif tenanganya," pungkasnya.
Baca juga:
Sri Mulyani sebut pemerintah masih kaji soal kenaikan harga rokok
5 Tanggapan pemerintah dan DPR soal harga rokok Rp 50.000
Bos Bea Cukai: Harga rokok RI paling mahal dibanding Jepang
Kalau harga rokok Rp 50.000, kenaikan cukai lebih dari 300 persen
Produsen sebut PHK besar-besaran jika harga rokok naik Rp 50.000
Harga rokok Rp 50.000 per bungkus, ini kata Menkeu Sri Mulyani
Isu penaikan harga rokok meresahkan petani tembakau