Pemerintah catat realisasi belanja APBN-P 2015 cuma 91,1 persen
Realisasi belanja modal hanya sebesar Rp 215,4 triliun, atau 78,1 dari target sebesar Rp 275,8 triliun.
Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, Marwanto Harjowiryono, mencatat realisasi belanja negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 sebesar Rp 1.806,5 triliun, atau 91,1 persen dari target sebesar Rp 1.984,1 triliun.
Hal ini disebabkan realisasi belanja modal hanya sebesar Rp 215,4 triliun, atau 78,1 dari target sebesar Rp 275,8 triliun. Pemerintah beralasan ada penambahan kegiatan pembangunan proyek fisik dan infrastruktur dalam APBN-P 2015, sehingga membutuhkan waktu untuk persiapan sebelum proses pengadaan dimulai.
"Selain itu, realisasi ini juga karena perubahan nomenklatur di kementerian dan lembaga (K/L) yang berimbas pada keterlambatan pengadaan barang dan jasa. Juga karena ada masalah dalam pembebasan lahan," kata Marwanto di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (22/8).
Dia menambahkan, realisasi belanja pegawai mencapai Rp 281,1 triliun dari target Rp 293,1 triliun; belanja barang sebesar Rp 233,3 triliun dari target Rp 238,8 triliun; dan pembayaran bunga utang sebesar Rp 156 triliun dari target Rp 155,7 triliun.
Selain itu, realisasi subsidi sebesar Rp 185,9 triliun dari target Rp 212,1 triliun; belanja hibah sebesar Rp 4,3 triliun dari target Rp 4,6 triliun; belanja bantuan sosial sebesar Rp 92,3 triliun dari target Rp 107,7 triliun; dan belanja lainnya Rp 10 triliun.
"Untuk transfer ke daerah dan dana desa terealisasi sebesar Rp 623,1 triliun dari target dalam APBN-P sebesar Rp 664,6 triliun," imbuhnya.
Baca juga:
Anggaran disunat Rp 1,2 T, Kemenpar ubah strategi kerja
8 Puja puji Presiden Jokowi di bidang ekonomi dalam 2 tahun berkuasa
Jokowi: Inflasi Juli tahun ini terendah dalam 5 tahun terakhir
Rp 6,5 T anggaran perjalanan dinas dan rapat K/L bakal dipangkas
Agar ekonomi tak goyang, Sri Mulyani hati-hati pangkas anggaran
Ini pos anggaran belanja pemerintah yang aman dari pemangkasan
Indef: Waktunya buat APBN kredibel, kemarin terlalu optimistis