Pembangunan Kolam Retensi Aceh Barat Rp300 Miliar: Solusi Banjir dan Destinasi Wisata Baru
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengusulkan proyek strategis nasional **pembangunan kolam retensi Aceh Barat** senilai Rp300 miliar ke Kementerian PUPR, diharapkan mampu mengatasi masalah banjir dan menjadi destinasi wisata baru di Kota Meulaboh.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat telah mengusulkan program proyek strategis nasional berupa pembangunan kolam retensi dengan estimasi nilai mencapai Rp300 miliar. Usulan ini diajukan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) sebagai langkah krusial mengatasi persoalan banjir yang kerap melanda wilayah tersebut. Proyek ambisius ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan dalam penanganan banjir di Kota Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat.
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, didampingi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Barat, Dr. Kurdi, menjelaskan bahwa jika proyek kolam retensi ini terealisasi, masalah banjir di Kota Meulaboh akan teratasi secara signifikan. Selain itu, area kolam retensi ini juga direncanakan akan dikembangkan menjadi destinasi wisata baru. Fasilitas publik seperti jogging track dan berbagai sarana pendukung lainnya akan melengkapi kawasan tersebut, menambah daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan.
Pemkab Aceh Barat secara aktif terus melakukan koordinasi teknis dengan Kementerian PUPR, termasuk Balai Sungai dan Pantai di Bali serta Yogyakarta. Upaya ini dilakukan untuk mematangkan perencanaan proyek pembangunan kolam retensi tersebut. Koordinasi intensif ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mewujudkan infrastruktur penting yang memiliki fungsi ganda, yaitu pengendalian banjir dan pengembangan pariwisata.
Kolam Retensi Solusi Banjir dan Destinasi Wisata Baru
Pembangunan kolam retensi di Suak Ujong Kalak, Meulaboh, menjadi prioritas utama Pemkab Aceh Barat untuk mengatasi banjir di pusat kota. Proyek ini diperkirakan membutuhkan anggaran minimal Rp50 miliar, yang merupakan bagian dari total usulan Rp300 miliar. Lokasi Suak Ujong Kalak sendiri telah lama diwacanakan sebagai kolam retensi untuk menampung debit air dari drainase dan mencegah banjir rob.
Bupati Tarmizi menekankan bahwa kolam retensi bukan hanya solusi teknis, tetapi juga berpotensi menjadi ikon baru. Dengan adanya fasilitas seperti jogging track, area ini akan menarik pengunjung dan meningkatkan perekonomian lokal. Pengembangan ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk memaksimalkan potensi wilayah.
Proses perencanaan proyek ini melibatkan berbagai pihak, termasuk koordinasi dengan Balai Sungai dan Pantai. Hal ini memastikan bahwa desain dan implementasi proyek akan memenuhi standar teknis yang diperlukan. Keterlibatan berbagai instansi menunjukkan pendekatan komprehensif dalam menangani masalah banjir.
Prioritas Pembangunan Infrastruktur Lain di Aceh Barat
Selain kolam retensi, Pemkab Aceh Barat juga telah mengajukan lima proposal rencana pembangunan lainnya kepada Menteri PUPR Dody Hanggodo pada Sabtu, 4 Oktober 2025. Usulan ini disampaikan melalui koordinasi dengan anggota Komisi V DPR-RI asal Aceh, Ustazd Gufron, di Jakarta. Pertemuan tersebut secara khusus membahas peningkatan infrastruktur di Aceh Barat, dengan beberapa proposal telah dilengkapi detail engineering design (DED).
Dalam kesempatan itu, Bupati Tarmizi menyerahkan beberapa proposal strategis kepada pemerintah pusat. Proposal-proposal ini mencakup berbagai sektor infrastruktur vital yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Aceh Barat. Dukungan bantuan keuangan pemerintah diharapkan dapat mencapai ratusan miliar rupiah, mengingat kebutuhan pembangunan daerah masih sekitar Rp2,6 triliun.
Program-program prioritas yang diusulkan antara lain:
- Penuntasan proyek daerah Irigasi Lhok Guci, Aceh Barat.
- Pembangunan jalan dua jalur dalam Kota Meulaboh, direncanakan di ruas Meureubo–Simpang Alpen, Jalan Sisingamangaraja, dan Jalan Manek Roo.
- Proyek pembangunan Break Water (Jetty) dan kolam retensi Suak Ujong Kalak, Meulaboh.
- Penanganan jalan dan jembatan di berbagai daerah.
- Proyek penguatan tebing serta pengendalian banjir Sungai Meureubo.
Bupati Tarmizi menegaskan bahwa penuntasan proyek irigasi Lhok Guci adalah yang paling mendesak. Sekitar 70 persen penduduk Aceh Barat adalah petani, dan delapan dari dua belas kecamatan sangat bergantung pada irigasi ini. Jika rampung, proyek ini akan mengaktifkan kembali 12 ribu hektare sawah, meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
Sumber: AntaraNews