Pakar Proyeksikan Harga Pertamax Turun Bertahap hingga Desember 2026
Harga Pertamax diprediksi akan mengalami penurunan bertahap hingga Desember 2026, menawarkan potensi keringanan bagi konsumen seiring stabilnya kondisi pasar global.
Pakar ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax akan mengalami penurunan secara bertahap. Penurunan ini diperkirakan terjadi mulai Juni hingga Desember 2026, dengan harga yang berpotensi mencapai kisaran Rp12.100–Rp13.500 per liter pada akhir tahun. Proyeksi ini memberikan harapan bagi masyarakat terkait stabilitas harga BBM nonsubsidi di tengah dinamika ekonomi global.
Menurut Yayan, ruang untuk penurunan harga BBM nonsubsidi sudah sangat terbuka lebar. Hal ini terlihat dari jenis BBM lain seperti Dexlite dan Pertamina Dex yang sudah lebih dulu mengalami penurunan harga. Kondisi ini mengindikasikan adanya tren positif yang dapat memengaruhi harga Pertamax dalam beberapa bulan ke depan.
Proyeksi penurunan harga Pertamax ini didasarkan pada beberapa faktor fundamental ekonomi dan geopolitik. Perkiraan ini mempertimbangkan pergerakan harga minyak mentah dunia serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Masyarakat diharapkan dapat merasakan dampak positif dari penyesuaian harga ini.
Proyeksi Penurunan Harga Pertamax dan Faktor Pendorongnya
Yayan Satyaki merinci proyeksi penurunan harga Pertamax secara bulanan, dimulai dari Rp16.250 per liter pada Juni 2026. Harga diperkirakan akan turun menjadi Rp15.228 per liter pada Juli, kemudian Rp14.557 per liter pada Agustus, dan Rp14.112 per liter pada September. Penurunan ini berlanjut hingga Rp13.814 per liter pada Oktober, Rp13.614 per liter pada November, dan mencapai Rp13.479 per liter pada Desember 2026.
Proyeksi harga Pertamax turun ini didasarkan pada asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang berangsur turun menuju level 90,6 dolar AS per barel pada Desember 2026. Selain itu, penguatan kurs rupiah juga menjadi faktor signifikan, diperkirakan menguat dari Rp17.927 menjadi Rp16.959 per dolar AS pada periode yang sama. Kombinasi kedua faktor ini menciptakan kondisi yang mendukung penurunan harga BBM nonsubsidi di pasar domestik.
Dinamika harga minyak mentah dunia memiliki pengaruh langsung terhadap penentuan harga BBM nonsubsidi di Indonesia. Asumsi makro dalam APBN 2026 sendiri mematok ICP berada di level 70 dolar AS per barel, yang menunjukkan adanya ruang untuk fluktuasi.
Dampak Geopolitik dan Ketahanan Fiskal Indonesia
Dinamika konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran turut memengaruhi harga minyak mentah global. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 117 dolar AS per barel pada April, namun kemudian terkoreksi cepat ke kisaran 78 dolar AS per barel setelah adanya kerangka damai AS-Iran yang direncanakan. Namun, harga kembali naik di atas 80 dolar AS per barel setelah pembatalan perundingan dan serangan baru Israel di Lebanon, menunjukkan volatilitas pasar yang tinggi.
Meskipun terjadi ketidakpastian global, Yayan meyakini bantalan fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai skenario. Pemerintah memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun dan menjaga defisit di kisaran 2,9 persen. Kondisi ini memberikan fleksibilitas bagi pemerintah dalam mengelola dampak fluktuasi harga minyak.
Sebagai contoh, dengan rata-rata ICP di level 90 dolar AS per barel, diperkirakan akan terjadi pelebaran defisit sekitar Rp136 triliun. Dalam skenario terburuk seperti penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan ICP mencapai 100 dolar AS per barel, pelebaran defisit bisa mencapai Rp204 triliun. Yayan menekankan bahwa SAL Rp420 triliun masih dapat menutupi skenario tersebut tanpa memotong belanja, meskipun ini dianggap sebagai asuransi sekali pakai, bukan solusi struktural.
Sumber: AntaraNews