Optimisme Kinerja BRI: Buyback Saham Jadi Bukti Kepercayaan pada Prospek Jangka Panjang
BRI juga memastikan bahwa pelaksanaan buyback mengacu pada seluruh ketentuan yang berlaku, termasuk Pasal 43 Peraturan OJK No. 29 Tahun 2023.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) atau BBRI menegaskan langkah strategis melalui program pembelian kembali saham (buyback) sebagai bagian dari dukungan terhadap program kepemilikan saham bagi karyawan. Kebijakan ini sekaligus mencerminkan optimisme Perseroan terhadap keberlanjutan kinerja BRI yang solid dan berorientasi jangka panjang.
Aksi korporasi tersebut telah mendapat restu dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 24 Maret 2025, dengan nilai maksimal mencapai Rp3 triliun. Proses buyback dilakukan melalui Bursa Efek maupun di luar Bursa, baik secara bertahap maupun sekaligus, dengan jangka waktu maksimal 12 bulan setelah tanggal RUPST. BRI juga memastikan bahwa pelaksanaan buyback mengacu pada seluruh ketentuan yang berlaku, termasuk Pasal 43 Peraturan OJK No. 29 Tahun 2023.
Saham BBRI masih undervalue
Harga saham BBRI yang dinilai masih undervalue menjadi salah satu alasan strategis langkah ini. Berdasarkan data Bloomberg per 31 Oktober 2025, dari 37 analis yang memantau BBRI, sebanyak 30 analis atau sekitar 81% merekomendasikan "beli" dengan target harga rata-rata 12 bulan ke depan sebesar Rp4.651 per saham. Saat ini PBV BRI berada di level 1,80x atau di bawah rata-rata lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa saham BBRI masih memiliki potensi penguatan.
Dalam Press Conference Paparan Kinerja Keuangan BRI Triwulan III 2025 (30/10), Direktur Finance & Strategy BRI Viviana Dyah Ayu menyampaikan bahwa Perseroan masih memiliki ruang anggaran untuk buyback saham.
"Kami memperoleh budget kurang lebih sekitar Rp3 triliun, dan saat ini kami masih memiliki budget yang dapat kami pakai sesegera mungkin jika melihat situasi pergerakan BBRI. Saat ini memang kami melihat saham BBRI undervalue, kami mempertimbangkan untuk melakukan hal (buyback) tersebut," ujar Viviana.
Kinerja solid BRI jadi dasar
Kinerja BRI yang solid menjadi dasar utama optimisme tersebut. Hingga akhir Triwulan III 2025, BRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp41,2 triliun, dengan seluruh indikator utama menunjukkan pertumbuhan positif. Total aset tumbuh 8,2% YoY menjadi Rp2.123,4 triliun, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 8,2% YoY menjadi Rp1.474,8 triliun, dan penyaluran kredit tumbuh 6,3% YoY mencapai Rp1.438,1 triliun.
Selain itu, kekuatan permodalan dan likuiditas BRI tetap terjaga kokoh. Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 25,4%, jauh di atas ketentuan minimum regulator, sementara Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level sehat sebesar 86,5%.
"Angka ini memberikan ruang likuiditas yang memadai bagi BRI untuk terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan," pungkas Viviana.
Langkah buyback saham ini menunjukkan kepercayaan BRI terhadap fundamental perusahaan dan komitmen menjaga nilai bagi pemegang saham serta keberlanjutan kinerja bisnis yang inklusif dan berdaya saing.