OJK: Pertambangan mulai naik, perbankan tak usah takut beri kredit
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut neraca ekspor dan impor di sektor pertambangan sudah mulai tumbuh positif. Perbankan diingatkan untuk tidak perlu takut memberikan pinjaman kredit ke sektor tersebut. Beberapa waktu belakangan sektor pertambangan mengalami keterpurukan cukup dalam.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut neraca ekspor dan impor di sektor pertambangan sudah mulai tumbuh positif. Perbankan diingatkan untuk tidak perlu takut memberikan pinjaman kredit ke sektor tersebut.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Nelson Tampubolon mengakui, beberapa waktu belakangan sektor pertambangan mengalami keterpurukan cukup dalam. Neraca ekspor dan impornya tumbuh negatif, sehingga perbankan tidak berani memberikan kredit terhadap sektor tersebut.
"Tapi kelihatan di trade ekspor-impor sudah positif. Tadinya negatif cukup lama, sekarang sudah positif," katanya di Gedung OJK, Jakarta, Jumat (13/1).
Sebagai otoritas, OJK tidak pernah melarang industri perbankan untuk menyalurkan kredit ke industri di sektor pertambangan. Namun, perbankan memiliki manajemen penilaian risiko tersendiri yang membuat mereka menahan penyaluran kredit untuk industri pertambangan.
Jika perbankan memaksakan diri untuk memberikan kredit ke sektor pertambangan, maka yang ditakutkan justru kredit macet (non performing loan/NPL) perbankan semakin tinggi.
"Bukan dilarang (salurkan kredit ke sektor pertambangan). Banknya yang lakukan risk manajemen. OJK enggak larang, tapi bank punya kemampuan assesment risk management. Yang dianggap risk tinggi ya di hold. Kalau ada peluang ya dilakukan," tandasnya.
Baca juga:
OJK: Aset BPD Rp 525 T, harusnya bisa dorong ekonomi daerah
Siasat OJK bantu pertumbuhan ekonomi di 2017
Ini 6 perusahaan investasi bodong anyar & cara mereka rayu pelanggan
OJK bongkar 6 perusahaan investasi ilegal di Tanah Air
Hindari kredit macet, OJK batasi pinjaman online hingga Rp 2 miliar
Perluas akses keuangan, OJK buat aturan pinjaman uang melalui online
2016, ada 47.969 rekening tabungan syariah baru senilai Rp 168,86 M