OJK Peringatkan Dampak Geopolitik dan Ekonomi Global Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Perkiraan pertumbuhan ekonomi global direvisi turun sebesar 0,5% untuk tahun ini dan 0,3% untuk tahun depan.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi global saat ini menunjukkan tanda-tanda perburukan. Dalam acara Konferensi Nasional yang diadakan di Jakarta pada Senin (28/4).
"Kondisi terakhir dan prospek perkiraan perkembangan geopolitik, bioekonomi, dan perekonomian global, yang saya rasa walaupun kita semua berharap tidak akan memburuk terlalu dalam, tapi nampaknya sampai saat ini paling tidak, tidak terelakkan bahwa kondisi pemburukan itu tidak terelakkan," kata Mahendra dalam acara Konferensi Nasional, Jakarta, Senin (28/4).
Mahendra merujuk pada laporan World Economic Outlook yang diterbitkan oleh IMF pekan lalu, yang menunjukkan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Menurut laporan tersebut, perkiraan pertumbuhan ekonomi global direvisi turun sebesar 0,5% untuk tahun ini dan 0,3% untuk tahun depan, menjadikannya hanya 0,8% dalam dua tahun mendatang.
"Untuk tahun ini dan tahun depan revisi ke bawah, masing-masing 0,5 dan 0,3 persen hingga secara seluruhan menjadi 0,8 persen dalam dua tahun ke depan ini, lebih rendah daripada sebelumnya," tambahnya.
Mahendra menilai perlambatan ekonomi ini merupakan hasil dari melambatnya pertumbuhan ekonomi di hampir seluruh negara di dunia. Oleh karena itu, Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk mendiversifikasi motor-motor pertumbuhan ekonomi agar tidak bergantung pada sektor tradisional yang sering dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global.
"Ini menunjukkan bahwa penting untuk mengembangkan motor-motor pertumbuhan berbasis domestik, khususnya di tingkat provinsi dan daerah," tambah Mahendra. Ia menekankan bahwa pengembangan sektor ekonomi di tingkat lokal, seperti agribisnis dan hortikultura, menjadi fokus utama dalam program pengembangan ekonomi daerah selama satu setengah tahun terakhir.
Mahendra juga menjelaskan bahwa program ini melibatkan berbagai pelaku ekonomi lokal, termasuk petani, peternak, pekebun, dan nelayan, untuk mendorong pengembangan komoditas unggulan daerah. Tidak hanya perbankan, namun seluruh lembaga jasa keuangan turut berperan dalam pembiayaan, termasuk asuransi yang membantu melindungi para petani dari risiko gagal panen atau bencana alam.
"Program ini bertujuan untuk mengurangi beban yang ditanggung oleh petani, serta menjadikan kegiatan ekonomi ini lebih layak secara bisnis dan dalam penilaian kredit," tutup Mahendra.