Minat Budidaya Lobster Modeling di Batam Meningkat, Peluang Ekonomi Terbuka Lebar
Minat masyarakat terhadap budidaya lobster modeling di Batam dan Kepri menunjukkan peningkatan signifikan seiring pengembangan teknologi, membuka peluang ekonomi yang menjanjikan.
Minat masyarakat terhadap budidaya lobster dengan sistem modeling menunjukkan peningkatan di wilayah Batam dan Kepulauan Riau. Peningkatan ini didorong oleh pengembangan teknologi budidaya yang telah dilakukan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam selama dua tahun terakhir.
Kepala BPBL Batam, Ipong Adi Guna, mengungkapkan bahwa kualitas perairan di Kepri dan Batam sangat mendukung untuk pengembangan budidaya lobster. Wilayah kerja BPBL Batam mencakup Kepri, Riau, dan Sumatera Barat, dengan 13 pembudidaya lobster terverifikasi.
Meskipun demikian, budidaya lobster modeling dari benih bening lobster (BBL) hingga ukuran konsumsi masih didominasi oleh BPBL Batam karena teknologi tersebut tergolong baru diterapkan. Teknologi ini baru berjalan sekitar dua tahun sehingga masyarakat masih banyak yang belum menerapkannya.
Potensi Perairan dan Inovasi Budidaya Lobster Modeling
Kepala BPBL Batam, Ipong Adi Guna, menegaskan bahwa kualitas perairan di Kepulauan Riau, khususnya Batam, sangat ideal untuk kegiatan budidaya lobster. Hasil pengembangan modeling budidaya lobster di BPBL Batam menunjukkan keberhasilan yang signifikan.
Teknologi budidaya lobster modeling ini merupakan inovasi yang relatif baru, baru berjalan sekitar dua tahun terakhir. Oleh karena itu, penerapan di kalangan masyarakat pembudidaya masih belum merata dan masih didominasi oleh BPBL Batam sendiri.
Saat ini, tercatat ada 13 pembudidaya lobster di wilayah kerja BPBL Batam yang meliputi Kepri, Riau, dan Sumatera Barat. Mereka telah memiliki izin usaha dan terverifikasi, menandakan adanya struktur formal dalam pengembangan sektor ini.
Meskipun demikian, sebagian besar masyarakat di Kepri dan Batam masih menjalankan usaha pembesaran lobster secara tradisional. Mereka umumnya menggunakan benih tangkapan alam, bukan dari Benih Bening Lobster (BBL) hasil modeling budidaya.
Peluang Ekonomi dan Regulasi Benih Bening Lobster
Permintaan lobster konsumsi di Batam dan sekitarnya tergolong sangat tinggi, menciptakan peluang usaha budidaya lobster yang sangat luas. Peningkatan produksi melalui budidaya dapat membantu memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.
Secara ekonomi, harga Benih Bening Lobster (BBL) di tingkat nelayan penangkap berkisar antara Rp8.500 hingga Rp10.000 per ekor. Harga ini dapat naik menjadi Rp12.000 hingga Rp14.000 per ekor di tingkat pengepul, belum termasuk biaya pengiriman.
Sebelumnya, harga BBL untuk pasar luar negeri bahkan bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp25.000 per ekor, menunjukkan nilai ekonomi yang sangat menggiurkan. Namun, regulasi terbaru telah mengubah dinamika perdagangan ini.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 5 Tahun 2026, BBL kini hanya diperuntukkan bagi kegiatan budidaya di dalam negeri dan tidak diperbolehkan untuk ekspor. Regulasi ini bertujuan menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan dan mendorong pengembangan budidaya lobster di dalam negeri.
Upaya Pencegahan Penyelundupan dan Pembinaan Berkelanjutan
Tingginya permintaan dari luar negeri terhadap Benih Bening Lobster (BBL) menjadi salah satu pemicu maraknya praktik penyelundupan. Pembatasan kuota penangkapan BBL oleh pemerintah juga turut berkontribusi pada fenomena ini.
Ipong Adi Guna menjelaskan bahwa permintaan BBL dari pasar internasional sangat besar, sementara pasokan legal dibatasi. Kondisi ini membuat praktik penyelundupan masih sering terjadi, merugikan upaya konservasi dan pengembangan budidaya nasional.
Sebagai contoh, Polda Kepulauan Riau baru-baru ini berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 122 ribu ekor BBL dari Batam pada Rabu (21/5). Benih-benih tersebut rencananya akan dikirim ke luar negeri, menunjukkan skala masalah penyelundupan.
BPBL Batam terus aktif melakukan pembinaan kepada masyarakat melalui berbagai program. Ini mencakup sosialisasi teknologi budidaya lobster, penyediaan konsultasi, serta koordinasi dengan dinas terkait untuk memperbarui data pembudidaya lobster di Kepri dan Batam.
Sumber: AntaraNews