Menuju Smart Mobility, TransJakarta Target Layani 400 Juta Pelanggan Hingga Akhir 2025
Pada 2024 Transjakarta tercatat melayani 372 juta penumpang. Pada 2025 ini, pihaknya menargetkan bisa melayani sebanyak 400 juta penumpang.
PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) terus bertransformasi menuju layanan transportasi publik inklusif dan berorientasi pada warga. Jumlah pelanggan Transjakarta pun tumbuh pesat hingga melampaui angka sebelum Covid-19.
Direktur Utama (Dirut) PT Transjakarta, Welfizon Yuza mengatakan, pada 2024 Transjakarta tercatat melayani 372 juta penumpang. Pada 2025 ini, pihaknya menargetkan bisa melayani sebanyak 400 juta penumpang.
“Kalau tahun lalu kami melayani 372 juta pelanggan, tahun ini targetnya tembus di atas 400 juta. Sampai triwulan ketiga sudah 298 juta pelanggan. Kami optimistis capai target,” kata Welfizon dalam forum Balkoters Talk bertajuk 'Smart Mobility: Evolusi Transjakarta untuk Jakarta 5 Abad' di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (4/11).
Ia kemudian menjelaskan soal perjalanan panjang Transjakarta yang bermula dari sistem busway konvensional menuju ekosistem smart mobility. Perubahan besar Transjakarta terjadi sejak 2015 ketika lembaga ini bertransformasi dari Unit Pelaksana Teknis menjadi Perseroan Terbatas (PT).
“Kalau dulu itu (perspektifnya) operasional driven, jadi layanan didorong dari sisi operasional. Tapi sejak 2016, kami ubah polanya, bukan didorong dari sisi operasional, tapi ditarik dari sisi customer (pelanggan),” ucap Welfizon.
Menurutnya, transformasi budaya pelayanan Transjakarta dimulai dari cara perusahaan memandang pengguna jasa. Dulu, kata dia orang yang naik Transjakarta disebut penumpang, namun istilah itu diubah menjadi pelanggan.
"Sejak kami berubah menjadi customer driven, sekarang kami mereka disebut pelanggan. Istilahnya mulai dari direksi sampai petugas di lapangan semua menyebut pelanggan, jadi enggak ada lagi istilah penumpang,” ujar dia.
Paradigma baru itu juga yang membuat layanan Transjakarta meningkat signifikan. Hingga kini, jangkauan layanan telah mencapai 91,8 persen wilayah Jakarta, ekuivalen dengan akses 9 dari 10 warga dapat menjangkau halte Transjakarta.
"Jadi 9 dari 10 warga Jakarta jalan kaki 5-10 menit ke arah mana pun pasti ketemu halte atau bus stop," kata Welfizon.
Dapat Dukungan DPRD
Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta menyatakan dukungan kepada Transjakarta agar terus meningkatkan kualitas layanannya.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Taufik Zoelkifli (MTZ), menegaskan kemajuan sistem transportasi Jakarta saat ini patut diapresiasi karena sudah jauh melampaui beberapa kota besar di Asia Tenggara.
"Kami di DPRD tentu saja menyerap aspirasi masyarakat, juga dari Dinas Perhubungan dan Transjakarta, untuk terus memperbaiki sistem transportasi Jakarta," kata MTZ.
Menurutnya, perbaikan layanan publik di sektor transportasi harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya menjaga tarif tetap murah, tetapi juga memastikan transportasi publik memberi rasa aman, nyaman, dan manusiawi bagi warga.
Perluasan Jaringan TransJakarta
Dia mengatakan, berbagai terobosan meliputi perluasan jaringan Transjakarta, kehadiran MRT dan LRT, serta integrasi antarmoda telah membawa Jakarta pada level yang lebih tinggi dibanding sejumlah ibu kota di kawasan Asia Tenggara.
"Hanya memang kita masih di bawah Singapura, Tokyo, dan Hong Kong," ujarnya.
MTZ juga menekankan soal pentingnya menjaga momentum perbaikan layanan menjelang perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027. Dia menyebut, peningkatan mobilitas publik yang efisien dan ramah harus menjadi 'kado terbaik' bagi Jakarta di usia 500 tahun.
"Dua tahun lagi, Jakarta akan berusia 500 tahun, tepatnya di 2027. Kami di DPRD, khususnya di Komisi B yang bermitra dengan sektor transportasi, akan terus mendorong agar mobilitas di Jakarta semakin baik dan efisien," kata MTZ.