Menteri ESDM nilai gangguan kolega lebih berat ketimbang mafia
"Kalau yang ganggu itu betul-betul penjahat menghadapinya enak. Tapi kalau kolega, masak kami mau berbalas pantun."
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menyesalkan sikap salah satu anggota Kabinet Kerja yang berkali-kali menghambat pekerjaannya. Dia tak menyebut sosok yang dimaksud.
Namun, berdasarkan pemberitaan selama ini, pernyataan tersebut mengarah pada Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli. Tak sedikit Rizal mencampuri urusan yang menjadi kewenangan Sudirman Said.
"Coba, listrik dikomentari dihambat. Kemudian dana ketahanan energi dikomentari dihambat. Bangun infrastruktur dihambat. Freeport sudah mau dibereskan dihambat. Sekarang Blok Masela. Kok malah kolega yang menghambat," ujarnya di kantor, Jakarta, Senin (29/2).
Menurutnya gangguan berasal dari kolega lebih berat ketimbang mafia.
"Karena kalau yang ganggu itu mafia, yang ganggu betul-betul penjahat menghadapinya enak. Tapi kalau kolega, masak kami mau berbalas pantun."
Terkait Blok Masela, menurut Sudirman, pembahasan rencana pengembangannya atau plan of development (PoD) masih dalam pembahasan pemerintah. Dia menegaskan, Presiden Joko Widodo menginginkan keputusan final investasi Blok Masela pada 2018.
"Maksud bapak presiden adalah bahwa yang diminta sekarang ini adalah persetujuan plan of development. Mengusung detail plan, mengecek bagaimana reservoar, bagaimana design engineering segala macam. Keputusan investasi final atau FID itu pada 2018."
Baca juga:
Hingga 2019, ESDM prioritaskan 6 provinsi ini dapat listrik
Sudirman Said target elektrifikasi Indonesia capai 97 persen di 2019
APBN terbatas, ESDM buka kesempatan swasta investasi
Jokowi minta ESDM harus pro aktif bangun infrastruktur energi
Jokowi: Blok Masela akan diputuskan di 2018
ESDM tegaskan revisi UU minerba bukan untuk buka keran impor