Menteri Ekonomi Kreatif akan Jadikan Jumbo Brand Fesyen hingga Buku
Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) tengah mempersiapkan Jumbo sebagai Intelektual Property atau IP lokal.
Kesuksesan film animasi lokal Jumbo besutan sutradara Ryan Adriandhy dan Visinema Pictures sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa, tidak lepas dari perhatian pemerintah. Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) tengah mempersiapkan Jumbo sebagai Intelektual Property atau IP lokal.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Rifky Harsya mengatakan, pihaknya tidak mau puas atas keberhasilan Jumbo sebagai film Indonesia paling banyak ditonton. Kementerian Ekraf berkolaborasi dengan Visinema Pictures untuk menciptakan IP atau brand bagi Jumbo yang dilindungi hak kekayaan intelektualnya.
Teuku Rifky tak ingin Jumbo kalah pamor dari brand-brand film animasi luar negeri yang banyak mejeng di produk semisal buku dan tas. Terlebih, bulan Juni jadi momentum bagi anak-anak yang sedang libur sekolah untuk berburu barang-barang baru.
"Juni kan musimnya libur anak sekolah. Biasanya banyak yang beli buku, tas, dan lain-lain. Tapi, selama ini banyak yang menggunakan karakter kartun IP dari luar," ujar dia dalam sesi bincang dengan Liputan6.com di SCTV Tower, Jakarta, Selasa (3/6)
"Kami coba mempertemukan produsen semisal penerbit buku dengan film Jumbo. Akhirnya sekarang sedang persiapan produksi dan IP, untuk karakter Jumbo di buku tulis, tas, dan seterusnya," dia menambahkan.
Bisa Jadi Merek Makanan-Fesyen
Tak hanya untuk perlengkapan anak sekolah, Kementerian Ekonomi Kreatif juga bakal menempel merek Jumbo untuk produk lainnya, mulai dari makanan hingga fashion.
"Kita temukan lagi produk-produk makanan yang buatan Indonesia bisa ada gambar Jumbonya, termasuk fashion. Memang dalam ekonomi kreatif ini kita harus kreatif berkolaborasi dengan industri kreatif lainnya," imbuh dia.
Lebih lanjut, Teuku Rifky turut menceritakan komunikasi dengan Visinema Pictures sejak sebelum film Jumbo rilis di bioskop. Guna mendukung IP Jumbo agar tidak hanya sukses di kancah perfilman nasional.
"Waktu itu Jumbo proses pembuatannya sudah sejak 5 tahun lalu. Kementrian Ekonomi Kreatif waktu itu belum hadir. Tapi sekitar 1 bulan sebelum film muncul di bioskop, hari pertama Lebaran, potensinya luar biasa," ungkap dia.
Saat pertama rilis, Kementerian Ekonomi Kreatif memasang target agar Jumbo bisa jadi film animasi Indonesia terlaris. Melampaui Si Juki The Movie: Harta Pulau Monyet yang keluar pada 2017, dengan sekitar 600 ribu penonton.
Namun realitanya, Jumbo bukan hanya lebih unggul dari Si Juki The Movie, tapi juga menjadi film lokal paling banyak ditonton di Tanah Air dengan lebih dari 10 juta penonton.
"Memang yang jadi kekhawatiran kami, bagaimana penonton bisa tembus 3 juta. Waktu itu film animasi Si Juki hanya ditonton 600 ribu penonton. Jumbo target 3 juta penonton. Alhamdulillah, film Jumbo ini di hari ke-64 sudah ditonton lebih dari 10 juta penonton. Tiga kali dari target di awal, bahkan lebih," tuturnya.