Masyarakat mengeluh sistem token listrik bikin boros
Sistem token yang diterapkan tidak praktis dan bisa mati listrik pada saat tertidur lelap.
Warga Jakarta Timur, Maya mengeluhkan penerapan tarif listrik sistem token. Menurut dia, sistem token yang diterapkan PLN malah masyarakat harus membayar lebih mahal.
Dia menempati apartemen di Jakarta dengan daya 1.300 volt ampere (VA). Peralatan elektronik miliknya tidak terlalu banyak yaitu pendingin ruangan (AC) 0,5 PK, kulkas, telepon genggam, komputer jinjing dan lampu.
"Itu mereknya sudah yang hemat listrik. Aku sebulan bisa sampai Rp 500.000 padahal tidak ada yang hidup terus. Kalau kulkas hidup terus, bisa Rp 800.000 per bulan," tutur Maya kepada merdeka.com, Minggu (25/10).
Selain itu, kata Maya, sistem token yang diterapkan tidak praktis dan bisa mati listrik pada saat tertidur lelap.
"Kalau larut malam dan sudah tidak ada uang di ATM, terpaksa gelap-gelapan sampai pagi," imbuh Maya.
Mendapat keluhan soal ini, Plt. Kepala Satuan Komunikasi PLN Bambang Dwiyanto mengatakan, pengguna perlu memeriksa pemakaian listriknya terlebih dahulu. Apabila sudah diperiksa dan tidak ada kesalahan, maka potensi penyebab borosnya pemakaian listrik tersebut karena data yang tidak sesuai.
"Kemungkinan juga ada salah catat meter, atau juga kekeliruan data kemudian penyesuaian data," kata Bambang.
Baca juga:
PLN cabut subsidi listrik 23 juta pengguna tahun depan
PLN gandeng Waskita Karya bangun proyek transmisi listrik Rp 6,71 T
Ekonomi lesu, pemakaian listrik industri baja turun
PLN: 22 juta pelanggan listrik subsidi cuma bayar Rp 36.000/bulan
PLN gandeng GE bangun pembangkit di daerah terpencil