LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Masih Impor, Indonesia Harus Antisipasi Sektor Energi saat Resesi

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan berdasarkan tren belakangan ini, sisi pangan Indonesia masih berada di posisi cukup aman di tengah ancaman resesi ekonomi. Karena banyak produksi pangan yang diambil dari produksi dalam negeri.

2022-10-10 16:45:35
ekspor impor
Advertisement

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan berdasarkan tren belakangan ini, sisi pangan Indonesia masih berada di posisi cukup aman di tengah ancaman resesi ekonomi. Karena banyak produksi pangan yang diambil dari produksi dalam negeri.

"Beda dengan negara lain yang ketergantungannya sangat tinggi dengan negara lain. Jadi kalau khusus pangan sebetulnya kita cukup. Dilihat dari tren sekarang selama 2022 tidak ada kasus mengenai pangan. Artinya produksi kita untuk memenuhi konsumsi itu bagus. Jadi untuk pangan kita terkendali," kata dia saat ditemui di hotel The Westin Jakarta, Senin (10/10).

Meski dari sisi pangan masih aman, namun Indonesia tetap terancam dari sisi energi karena Indonesia masih impor. Sedangkan, perang di Ukraina menyebabkan negara penghasil minyak mengetatkan produksinya.

Advertisement

Jika harga komoditas energi makin mahal, maka subsidi yang diberikan pemerintah untuk menekan harga jual energi di dalam negeri tetap terjangkau masyarakat, akan semakin besar. Akibatnya, beban fiskal yang ditanggung pemerintah akan lebih besar dan akan berpengaruh pada perekonomian RI.

"Itu yang harus kita hati-hati. Jadi persoalan energi. Kalah pangan cukup kecuali beberapa komoditas yang ancaman kita itu impor tinggi misal gandum, kedelai, itu berpengruh kalau supply terganggu," paparnya.

BPS mencatat inflasi September sebesar 1,17 persen, sementara secara tahunan (yoy) sebesar 5,95 persen atau tertinggi sejak 2014. Margo mengatakan tingginya inflasi masih akan terjadi beberapa bulan kedepan imbas kenaikan harga BBM Subsidi.

Advertisement

Dia juga mengatakan jika inflasi terus menujukkan angka yang tinggi, maka akan berpengaruh pada daya beli masyarakat. Dengan begitu, akan mengganggu tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kalau inflasi terus tinggi itu akan ganggu daya beli masyarakat. Kalau daya beli masyarakat terganggu otomatis konsumsinatau permintaan barang dan jasa itu juga akan berkurang. Kalau permintaan barang dan jasa berkurang karena harga-harga naik dan menganggu pertumbuhan ekonomi kita," kata Margo menerangkan.

"Jadi yang dikhawatirkan begitu. Inflasi tinggi. Sementara pendapatan masyarakat tidak naikan setajam kenaikan inflasi. Pasti daya beli terganggu. Nah kalau daya beli terganggu otomatis permintaan barang jasa akan berkurang nah kalau berkurang permintaannya pasti pertumbuhan ekonomi akan melambat. Ini di takutkan banyak negara," imbuhnya.

Reporter: Arief Rahman H.

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Resesi Global Bisa Bikin Kunjungan Turis Asing ke RI Turun
Perlambatan Ekonomi Global Diprediksi Tak Terlalu Dalam Meski Ada Resesi
Bukan Inflasi, Ini Tantangan Terbesar Ekonomi Dunia
Nilai Tukar Mata Uang Asia Diprediksi Terus Anjlok, Krismon 1998 Bakal Terulang?
Puan Soal Resesi 2023: Tak Ada Negara yang Mampu Hadapi Sendirian
Tak Hanya Resesi, Dunia Dihadapkan dengan Ancaman Perang Nuklir

(mdk/azz)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.