Masa Depan Danantara Diyakini Bakal Suram Jika Dikelola Keluarga Afiliasi Politik, Begini Penjelasannya
Badan Pengelola ini harus diisi oleh profesional yang bebas dari kepentingan politik.
Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (24/2). Danantara diharapkan menjadi katalisator utama untuk pengelolaan investasi di Indonesia. Namun, kepala Center of Industry, Trade, and Investment dari Investment Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, mengingatkan bahwa Badan Pengelola ini harus diisi oleh profesional yang bebas dari kepentingan politik.
Andry mengungkapkan bahwa salah memilih Kepala Badan dan Direksi Danantara bisa membawa dampak buruk pada pasar investasi Indonesia. Salah satu risikonya adalah potensi kaburnya investasi asing dari pasar modal Indonesia.
“Jika Danantara dikelola oleh orang yang memiliki afiliasi politik, akan terjadi capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia, terutama di pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN),” ujar Andry.
Dia juga menambahkan bahwa tujuh perusahaan BUMN yang tergabung dalam Danantara, yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, sangat rentan terhadap dampak ini.
Andry menekankan, khususnya saham dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang akan terkena dampak besar pada pengumuman pertama terkait kebijakan Danantara. Jika pengelolaannya tidak profesional, hal ini bisa menyebabkan koreksi besar-besaran pada saham-saham perusahaan tersebut.
Menurut Andry, sangat penting bagi Danantara dipimpin oleh sosok yang profesional, berpengalaman dalam pengelolaan dana investasi, dan tidak terlibat dalam politik praktis. Jika ini tidak dihiraukan, risiko moral hazard dan kurangnya akuntabilitas dapat merugikan perekonomian Indonesia dalam jangka pendek maupun panjang.
Dengan harapan agar Danantara bisa memberikan manfaat positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, Andry menegaskan bahwa pengelolaan yang transparan dan profesional adalah kunci untuk kesuksesan jangka panjang badan investasi ini.
Wajib Profesional Kelola Danantara
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin juga menekankan pentingnya profesionalisme pengelola BPI Danantara, mengingat dana Kelola yang cukup besar.
Samirin juga menyoroti pentingnya mengisi posisi penting di Danantara dengan profesional yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi. Pemilihan orang yang tepat, terutama dari kalangan profesional, akan menjadi daya tarik bagi investor.
Bahkan, jika diperlukan, rekrutmen ekspatriat terbaik bisa dilakukan untuk membantu memajukan Danantara.
"Merit system wajib diterapkan dalam memilih sosok terbaik untuk menjalankan organisasi. Manfaatkan Indonesia yang luas yang penuh dengan sosok kredibel, profesional, dan berintegritas, sebagai sumber kader. Jika perlu, rekrut expat terbaik untuk ikut memajukan Danantara," tegasnya.
“BUMN adalah telur-telur emas yang masa depan rakyat digantungkan padanya,” ujarnya.
Oleh karena itu, pengelolaan yang hati-hati dan terencana sangat penting untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan lembaga ini.
Danantara dirancang untuk mengelola aset perusahaan-perusahaan BUMN yang mencapai USD900 miliar atau sekitar Rp14.724 triliun. Dengan besarnya aset ini, Danantara berpotensi menarik aliran modal asing melalui foreign direct investment (FDI).
Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Erick Thohir kepada Prabowo, total dividen BUMN untuk tahun ini diperkirakan mencapai Rp300 triliun.
Sementara itu, sisa dana sebesar Rp200 triliun akan dialokasikan untuk investasi melalui Danantara. Dengan nilai Asset Under Management (AUM) sekitar USD900 miliar, Danantara akan menjadi sovereign wealth fund (SWF) terbesar ketujuh di dunia.
Ke depannya, keberhasilan Danantara dalam mengelola aset negara dan menarik investor asing akan sangat bergantung pada langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah untuk menjamin transparansi, tata kelola yang baik, dan integritas dalam setiap keputusan yang diambil.