Malaysia Airlines Siap Terima Boeing yang Ditolak China
MAS menargetkan mengoperasikan 55 unit pesawat berbadan sempit Boeing 737 MAX generasi baru pada tahun 2030.
Di balik rumitnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China, terselip peluang tak terduga bagi Malaysia Airlines. Malaysia Aviation Group (MAG), perusahaan induk dari maskapai nasional tersebut, tengah melakukan pembicaraan serius dengan Boeing untuk merebut slot pengiriman pesawat 737 MAX yang dikabarkan batal dikirim ke China.
Langkah ini mencuat setelah beredar kabar bahwa sejumlah jet Boeing 737 MAX yang awalnya dialokasikan untuk maskapai China dikembalikan ke Amerika Serikat. Baik Boeing maupun otoritas China belum memberikan keterangan resmi, sehingga masih belum jelas siapa yang berada di balik keputusan pemulangan pesawat tersebut. Namun di balik ketidakpastian itu, MAG melihat potensi besar.
“Kami sedang berdiskusi dengan Boeing mengenai kemungkinan mengambil alih slot-slot pengiriman tersebut,” ujar Izham Ismail, Direktur Pelaksana MAG, dalam wawancaranya bersama kantor berita Bernama.
Peluang di Tengah Krisis
Permintaan pesawat baru kini melonjak di seluruh dunia, terutama pasca pandemi COVID-19 yang sempat menghantam industri penerbangan. Sayangnya, hambatan rantai pasokan dan perlambatan produksi Boeing yang dipicu oleh pengawasan ketat regulator serta pemogokan buruh membuat waktu tunggu pengiriman menjadi sangat lama.
Dalam kondisi seperti inilah, peluang untuk mendapatkan slot pengiriman lebih cepat menjadi sangat berharga. Terlebih bagi MAG yang memiliki ambisi besar dalam memperkuat armadanya.
Perusahaan yang dimiliki oleh Khazanah Nasional, dana kekayaan negara Malaysia, menargetkan mengoperasikan 55 unit pesawat berbadan sempit Boeing 737 MAX generasi baru pada tahun 2030.
Rencana Serius Ekspansi
Langkah ini bukan hal baru. Bulan lalu, MAG sudah mengumumkan rencana pembelian 30 pesawat baru: 18 unit 737 MAX 8 dan 12 unit 737 MAX 10, serta opsi tambahan untuk 30 jet lainnya. Selain itu, mereka juga telah menjalin kerja sama penyewaan 25 jet 737 MAX dari Air Lease Corp untuk periode 2023 hingga 2026.
Namun, Izham menegaskan bahwa potensi pengambilalihan slot pengiriman yang kosong tersebut tidak terkait dengan kesepakatan leasing tersebut. Jika kesepakatan baru dengan Boeing ini benar-benar terjadi, maka MAG perlu menempuh jalur pembiayaan baru melalui pasar modal.