LPEM UI: Insentif Otomotif Lokal Pacu PDB dan Serapan Tenaga Kerja Nasional
Studi LPEM FEB UI mengungkap insentif otomotif lokal berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) signifikan memacu PDB, penjualan kendaraan, dan penciptaan lapangan kerja.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis temuan penting terkait dampak insentif industri otomotif. Mereka menyatakan bahwa pemberian insentif berbasis lokalisasi komponen untuk industri otomotif memacu pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Pernyataan ini disampaikan oleh Ekonom LPEM FEB UI, Riyanto, di Bandung pada Jumat (9/1).
Riyanto menjelaskan bahwa skenario insentif lokalisasi menunjukkan hasil yang lebih kuat dibandingkan skenario baseline. Skenario baseline ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025, yang dinilai kurang optimal. Skema insentif lokalisasi mendorong penggunaan komponen dalam negeri, yang pada gilirannya meningkatkan nilai tambah ekonomi domestik secara signifikan.
Hasil simulasi tersebut menunjukkan potensi tambahan PDB yang substansial, serta penciptaan lapangan kerja yang signifikan. Hal ini menjadi strategi penting untuk memperkuat ekonomi dan industri otomotif nasional secara berkelanjutan. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi sektor manufaktur dan penyerapan tenaga kerja di Indonesia.
Insentif Otomotif Lokal Dorong PDB dan Penjualan Kendaraan
Ekonom LPEM FEB UI, Riyanto, menjelaskan bahwa skenario insentif lokalisasi komponen otomotif menunjukkan hasil yang lebih kuat. Dibandingkan dengan skenario bisnis seperti biasa, akan ada tambahan PDB yang signifikan. Proyeksi menunjukkan peningkatan PDB sebesar Rp4 triliun pada tahun 2026 dan mencapai Rp21 triliun pada tahun 2030.
Simulasi tersebut juga memproyeksikan peningkatan penjualan kendaraan secara nasional. Setelah sempat menurun pada tahun 2025, total penjualan mobil diperkirakan kembali meningkat. Total penjualan ini diproyeksikan mencapai sekitar 1,32 juta unit pada tahun 2030, menunjukkan pemulihan dan pertumbuhan pasar otomotif yang didorong oleh kebijakan insentif.
Meskipun kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) masih mendominasi pasar, pangsa pasarnya diproyeksikan akan menurun signifikan. Dari 98 persen pada tahun 2022, pangsa pasar ICE diperkirakan menjadi sekitar 75 persen pada tahun 2030. Sebaliknya, kendaraan elektrifikasi (xEV) menunjukkan pertumbuhan yang pesat dan signifikan dalam periode yang sama.
Percepatan Elektrifikasi dan Manfaat Lingkungan dari Insentif TKDN
Pada skenario baseline, kontribusi gabungan kendaraan hybrid (HEV), plug-in hybrid (PHEV), dan baterai listrik (BEV) diperkirakan mencapai 25 persen dari total pasar pada tahun 2030. Namun, dengan skenario insentif lokalisasi atau berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pangsa pasar xEV meningkat lebih tinggi. Pangsa pasar ini diproyeksikan mencapai sekitar 27,4 persen, dengan HEV menjadi kontributor terbesar dalam pertumbuhan tersebut.
Riyanto menjelaskan bahwa insentif berbasis lokalisasi dapat menurunkan harga kendaraan hybrid (HEV) hingga sekitar 4–6 persen. Penurunan harga ini mendorong pergeseran preferensi konsumen dari kendaraan ICEV ke HEV. Hal ini memicu substitusi dari kendaraan konvensional dan mempercepat elektrifikasi dengan biaya ekonomi yang relatif lebih efisien.
Dari sisi lingkungan, insentif lokalisasi juga memberikan kontribusi positif terhadap penurunan emisi gas rumah kaca dan konsumsi bahan bakar. Kendaraan HEV dinilai tetap menjadi opsi paling efisien secara ekonomi dalam upaya transisi menuju kendaraan rendah emisi. Kebijakan ini mendukung tujuan keberlanjutan lingkungan dan upaya mengurangi dampak perubahan iklim.
Peningkatan Output Industri dan Penciptaan Lapangan Kerja
Peningkatan penjualan HEV dan bertambahnya penggunaan komponen lokal, termasuk baterai berbasis nikel, turut mendorong output manufaktur otomotif. Ini menunjukkan dampak positif insentif terhadap rantai pasok domestik, di mana industri dalam negeri semakin berperan aktif dalam produksi kendaraan.
Output industri otomotif diperkirakan meningkat sekitar 2,1 persen pada tahun 2026 dan hingga 7,4 persen pada tahun 2030 dibandingkan skenario tanpa insentif. Peningkatan ini mencerminkan dampak langsung dari kebijakan yang mendukung produksi lokal dan menunjukkan potensi pertumbuhan sektor manufaktur yang signifikan.
LPEM FEB UI memproyeksikan tambahan lapangan kerja mencapai sekitar 9.200 orang pada tahun 2026. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 34.000 orang pada tahun 2030, seiring dengan ekspansi produksi dan pendalaman rantai pasok domestik. Ini menunjukkan kontribusi besar insentif terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sumber: AntaraNews