LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Klaim fundamental ekonomi baik, bos BI yakin Indonesia tidak krisis

"Apakah Indonesia menuju krisis? Kami sampaikan tidak. Malah fundamental ekonomi kita membaik," ujar Agus Marto.

2015-08-27 13:20:00
Krisis ekonomi
Advertisement

Nilai tukar Rupiah yang anjlok mencapai Rp 14.000 per Dolar Amerika Serikat (USD) serta pasar modal tertekan hingga ke zona merah dinilai masih belum menyebabkan krisis ekonomi di Indonesia. Pasalnya, fundamental ekonomi Indonesia terus membaik di tengah perlambatan ekonomi dunia.

"Apakah Indonesia menuju krisis? Kami sampaikan tidak. Malah fundamental ekonomi kita membaik tapi ekonomi dunia terus buruk apalagi ada sentimen karena Fed Rate mau naik dan devaluasi Yuan," ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (27/8).

Agus menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus. Terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang masih positif pada semester I 2015 sebesar 4,67 persen dan neraca perdagangan Indonesia yang masih surplus USD 1,33 miliar.

Kondisi tersebut berbeda dengan krisis ekonomi 1998. Di mana, kata Agus, pertumbuhan ekonomi mencapai minus 17 persen, inflasi sebesar 77 persen dan suku bunga BI naik hingga 57 persen.

"Kita independen dari pemerintah dan fokus jaga inflasi. Walaupun, defisit transaksi berjalan masih ada tekanan. Tapi cadangan devisa waktu itu (1998) cuma USD 21 miliar. Sekarang kita di USD 107 miliar itu di 7 bulan impor," kata dia.

Selain itu, pada krisis 1998, ada perubahan kurs yang cukup cepat dari Rp 2.000 hingga Rp 16.000 per USD. Hal tersebut membuat perbankan runtuh hingga banyak yang terpaksa ditutup. Bahkan, kredit macet pada saat itu mencapai 50 persen. Saat ini, lanjut Agus, hanya mencapai 2,5 persen dari total kredit.

"Dulu kita belum punya framework. Dulu kalau kita punya kebijakan fiskal kita bisa defisit seperti Jepang dan Eropa sampai enam persen. Sekarang UU tidak perkenankan kita untuk defisit di atas tiga persen," pungkas dia.

Baca juga:
Ada apa bos IMF datang berkunjung saat ekonomi Indonesia bergejolak?
Menkeu sebut ekonomi melemah sejak era SBY tapi tak segera diobati
Kelemahan infrastruktur Indonesia justru pikat investor dunia
Ekonomi AS membaik bikin dana asing ke Indonesia minim
Rupiah ambruk, Jokowi minta menteri ekonomi bikin kebijakan besar

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.