KKP Perkuat Mutu Udang Indonesia dan Kolaborasi untuk Daya Saing Global
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat mutu udang Indonesia serta kolaborasi lintas sektor demi menjaga kepercayaan pasar global dan meningkatkan daya saing komoditas ekspor unggulan pasca isu Cesium-137.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara konsisten memperkuat standar mutu dan kolaborasi lintas sektor. Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan dunia terhadap udang Indonesia sebagai komoditas ekspor unggulan yang berdaya saing tinggi. Upaya ini menjadi krusial setelah munculnya isu cemaran radioaktif Cesium-137 yang sempat menjadi perhatian.
Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu) KKP, Ishartini, menegaskan komitmen pihaknya. KKP bertekad menjaga kualitas dan keamanan pangan produk udang agar senantiasa memenuhi standar internasional yang ketat. Penguatan ini diharapkan dapat menjamin keberlanjutan ekspor udang nasional.
Ishartini menyatakan bahwa Badan Mutu KKP, sebagai Certifying Entity, berkomitmen penuh pada pengendalian dan pengawasan mutu. Fokus utama saat ini adalah pada udang dari Jawa dan Lampung yang diwajibkan untuk memenuhi standar tersebut. Hal ini merupakan respons proaktif KKP dalam menghadapi tantangan dan menjaga reputasi produk perikanan Indonesia.
Penguatan Pengawasan Mutu dan Uji Radionuklida
KKP terus memperkuat sistem pengawasan mutu, termasuk pengendalian radionuklida. Pengendalian ini dilakukan melalui sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) yang diterapkan secara ketat di seluruh rantai produksi udang. Sertifikasi ini memastikan bahwa produk udang aman dan berkualitas tinggi.
Selain itu, KKP juga memperkuat kapasitas laboratorium pengujian yang berlokasi di Cilangkap, Jakarta Timur. Laboratorium ini ditargetkan mampu menguji radionuklida secara mandiri pada akhir tahun ini. Dukungan sumber daya manusia (SDM) inspektur mutu dan analis laboratorium yang kompeten menjadi kunci dalam mencapai target tersebut.
Ishartini menjelaskan, "Kami di Badan Mutu KKP sebagai Certifying Entity, berkomitmen penuh melakukan pengendalian, pengawasan (mutu), khusus yang sekarang ini adalah dari Jawa dan Lampung yang diwajibkan." Pernyataan ini menegaskan fokus KKP pada daerah-daerah penghasil udang utama untuk memastikan kepatuhan standar mutu.
Transformasi Digital dan Kolaborasi Lintas Sektor
Transformasi digital menjadi salah satu upaya strategis yang dilakukan KKP untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi. Integrasi sistem teknologi informasi KKP dengan lembaga internasional seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA) dan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (US Customs and Border Protection/USCBP) sedang digencarkan.
Integrasi ini memastikan proses pengawasan menjadi lebih cepat dan transparan, mengurangi hambatan perdagangan. Ishartini menambahkan, "Kita siapkan integrasi sistem IT kita, antara 'Siap Mutu' di KKP dengan ITACS (Import Trade Auxiliary Communication System/Sistem Komunikasi Tambahan Perdagangan Impor) milik di USFDA Amerika." Langkah ini menunjukkan keseriusan KKP dalam adaptasi teknologi.
Sinergisitas dengan berbagai pihak juga terus digencarkan, mulai dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) hingga asosiasi perikanan dan akademisi. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem ekspor perikanan yang berkelanjutan. Upaya bersama ini diharapkan dapat mempercepat pemenuhan target ekspor dan memperluas akses pasar udang Indonesia.
Optimisme Pasar dan Dominasi Udang Indonesia
Upaya kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk mempertahankan posisi kuat Indonesia di pasar Amerika Serikat. Ishartini menyatakan optimisme tinggi terhadap pasar udang Indonesia. "Kami sangat optimistis udang Indonesia masih bisa memenuhi pasar Amerika," ujarnya, menyoroti permintaan yang tinggi dari Amerika.
Menurut Ishartini, udang Indonesia memiliki cita rasa khas dan kualitas premium yang membuatnya tetap menjadi primadona di pasar global, terutama Amerika. "Dia (udang Indonesia) punya cita rasa yang lain dari udang yang diproduksi negara lain," jelasnya, menekankan keunggulan komparatif produk udang nasional.
Melalui peningkatan mutu, digitalisasi, dan kerja sama lintas sektor, KKP optimistis Indonesia mampu mempertahankan bahkan memperluas pangsa pasar udang di tingkat internasional. Ini menunjukkan komitmen KKP untuk terus mendorong pertumbuhan sektor perikanan nasional.
Data Ekspor Perikanan Indonesia
KKP mencatat lima negara tujuan utama ekspor perikanan Indonesia selama periode Januari-September 2025. Amerika Serikat menduduki peringkat pertama dengan nilai ekspor mencapai 1.495,94 juta dolar AS. Disusul oleh China dengan 812,76 juta dolar AS, negara kawasan ASEAN 711,99 juta dolar AS, Jepang 448,29 juta dolar AS, dan Uni Eropa 331,32 juta dolar AS.
Dari sisi komoditas, udang masih menjadi primadona utama ekspor produk perikanan Indonesia. Nilai ekspor udang mencapai 1.397,23 juta dolar AS pada periode yang sama. Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor udang dengan pangsa 63,1 persen dari total ekspor udang Indonesia.
Komoditas lain yang juga memberikan kontribusi signifikan meliputi tuna-cakalang-tongkol (763,51 juta dolar AS), cumi-sotong-gurita (574,75 juta dolar AS), rajungan-kepiting (377,65 juta dolar AS), dan rumput laut (233,86 juta dolar AS). Data ini menegaskan posisi udang sebagai tulang punggung ekspor perikanan nasional.
Sumber: AntaraNews