Kisah Usaha Tempe Rumahan, Raup Omzet Rp9 Juta per Bulan dengan Modal KUR
Untuk mengembangkan bisnis tempe dan tahu yang telah digelutinya selama puluhan tahun, dia memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.
Memiliki usaha sendiri menjadi impian banyak orang. Namun, untuk mewujudkan hal itu, modal usaha kerap menjadi tantangan utama. Begitu pula yang dialami Hartoko, atau yang akrab disapa Pak Har.
Untuk mengembangkan bisnis tempe dan tahu yang telah digelutinya selama puluhan tahun, dia memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Di rumah produksi Primkopti Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Pak Har sapaan akrabnya tampak sibuk mencuci kedelai, memilih biji terbaik, hingga menggilingnya sebagai bagian dari proses pembuatan tempe. Dia tidak sendiri. Di lokasi tersebut, belasan pengrajin lainnya juga tengah bekerja. Ada yang menaburkan ragi ke kedelai yang telah dikukus, ada pula yang mengemas tempe siap edar.
Aktivitas para pengrajin ini menunjukkan geliat ekonomi yang hidup di balik tempe yang biasa kita temui di pasar.
Bangunan rumah produksi itu berdiri di Jalan Sonton, Lenteng Agung. Luasnya sekitar 30 meter x 6 meter dan dibagi menjadi dua blok terpisah, satu untuk produksi tempe dan satu lagi untuk tahu. Peralatan seperti burner, bak perendaman, meja peragian, dan tray fermentasi tertata rapi di dalam ruangan.
Sebagaimana catatan merdeka.com, usaha Pak Har bukan baru dirintis. Sudah 25 tahun dia menekuni dunia tempe. Namun, titik baliknya terjadi pada 2014, ketika dia mulai mengakses program KUR Mikro dari BRI. Program ini memungkinkan pelaku UMKM mengajukan pinjaman hingga Rp50 juta dengan bunga yang relatif rendah.
"Saya mulai mengajukan KUR kira-kira sepuluh tahun lalu, sekitar tahun 2014. Sampai sekarang masih berlanjut," ujar Pak Har.
Kredit ini, menurutnya, menjadi penopang utama bagi banyak pengrajin di lingkungan Primkopti. Dari total 22 pengrajin yang tergabung, hampir semuanya bergantung pada KUR BRI untuk menjaga kelangsungan dan pengembangan usaha.
“Dari awal sudah di BRI, nyaman. Prosesnya mudah. Cuma diminta fotokopi KK, KTP, foto pribadi, dan jaminan. Enggak ribet,” ungkapnya.
Akses KUR Mikro
Sebagian besar dari mereka mengakses KUR Mikro dengan plafon maksimal Rp25 juta dan tenor pinjaman hingga tiga tahun. Pak Har mengaku memilih KUR BRI karena cicilannya ringan, dan yang terpenting, menghindarkannya dari jeratan rentenir.
"Kalau pinjam ke sana-sini malah pusing. Kalau ini jelas, enggak riweuh," tegasnya.
Dukungan dana dari KUR membuat produksi Pak Har meningkat drastis. Dia kini mampu mengolah hingga 1 kuintal kedelai per hari, dua kali lipat dari sebelumnya yang hanya sekitar 50 kilogram. Dalam sebulan, ia bisa menghabiskan hampir 3 ton bahan baku.
"Biasanya 50 sampai 70 kg per hari. Tapi sekarang bisa sampai 1 kuintal. Kalau dihitung per bulan, sekitar 3 ton kedelai keluar untuk produksi," jelasnya.
Dana KUR yang diterimanya digunakan untuk membeli berbagai peralatan produksi seperti tray fermentasi, bak perebus, alat penggilingan, hingga tempat cuci kedelai.
Meskipun beberapa fasilitas disediakan koperasi, sebagian besar pengrajin tetap membeli alat pribadi jika memiliki tambahan modal.
"Kalau dapurnya dari koperasi, alat ada yang bareng-bareng, tapi banyak juga yang beli sendiri," kata pria asal Pekalongan itu.
Kini, usaha Pak Har semakin berkembang. Dia bahkan mempekerjakan satu orang karyawan untuk membantu produksi. Omzet bulanannya pun melonjak, mencapai Rp8 hingga Rp9 juta. Produk tempe hasil produksinya dipasarkan ke Pasar Lenteng Agung.
Tak hanya meningkatkan usaha, KUR BRI juga membawa perubahan besar dalam hidup Pak Har. Lewat usaha tempe, ia kini memiliki aset di kampung halamannya di Pekalongan, termasuk rumah dan sawah.