Kisah Inspiratif Pendiri Djarum, Ternyata Dulu Jualan Minyak Kacang Tanah Sebelum Rambah Industri Rokok
Dia menambahkan bahwa usaha minyak kacang tanah tersebut dikelola oleh kakek buyutnya, yang merupakan generasi keempat dalam keluarga.
Perjalanan bisnis Hartono, seorang pengusaha terkemuka dari Indonesia, memberikan banyak motivasi bagi masyarakat. Dia menjabat sebagai Direktur Utama di PT Djarum, salah satu perusahaan rokok terbesar di tanah air, namun awal mula usahanya bukanlah di sektor tembakau.
Dalam acara Meet The Leaders yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina di Trinity Tower, Jakarta Selatan, pada hari Sabtu (26/7), Victor Rachmat Hartono, yang merupakan putra Hartono, membagikan kisah perjalanan bisnis keluarganya. Dia menjelaskan bahwa sebelum terjun ke industri rokok, kakek moyangnya memulai usaha di bidang minyak kacang tanah.
"Kita peres kacangnya jadi minyak kacang dan nanti dipakai buat masak sayur, dan lain-lain. Ini di zaman yang belum ada minyak sawit. Begitu minyak sawit keluar, minyak kacang tanah kalah saingan, jadi berkurang," kutipnya pada Minggu (27/7).
Dia menambahkan bahwa usaha minyak kacang tanah tersebut dikelola oleh kakek buyutnya, yang merupakan generasi keempat dalam keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu, bisnis tersebut mengalami ketidakpastian dari generasi ke generasi. Victor juga membandingkan kejayaan keluarganya dengan ukuran makam kakek buyutnya.
"Saya ini pengurus makam keluarga. Jadi saya tahu makam yang generasi keempat itu gede banget, yang pengusaha kacang. (Generasi) ke-5 makin kecil, ke-6 kok makin kecil ya. Ini enggak punya dana ini. Itu indikasi kenyataan. Real estatenya makin kecil," ungkap Victor.
Pabrik Produksi Kembang Api
Memasuki generasi ketujuh, Oei Wie Gwan, kakek dari Victor, memulai usaha mercon yang akhirnya berhasil mendirikan pabrik kembang api pada tahun 1927. Produk mercon tersebut diberi merek Cap Leo. Namun, ketika Jepang menjajah Indonesia, Belanda mengambil langkah antisipasi dengan melarang peredaran bubuk mesiu, yang menyebabkan pabriknya terpaksa ditutup.
Selama periode 1942 hingga 1951, berbagai sektor bisnis dijelajahi, termasuk menjadi kontraktor untuk pembangunan landasan udara Ahmad Yani. Pada tahun 1951, Oei Wie Gwan akhirnya membeli sebuah pabrik rokok kretek kecil di Kudus.
"Keluarga kita tuh bukan tipe yang nggak punya uang banget, terus tiba-tiba punya uang. Kita tuh pelan-pelan makin makmur. Dan saya lihat kuburannya abis-abisan juga. Saya ngurus dari generasi 1 sampe generasi 6, jadi saya bisa lihat dari kualitas kuburan. Ini pelan-pelan naik, sudah berapa generasi."
Saat ini, Djarum telah berkembang menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Selain itu, Djarum Group juga telah memperluas bisnisnya ke berbagai sektor, termasuk perbankan, properti, elektronik, dan bahkan kesehatan.
Grup Djarum Akuisisi 62,93 Juta Saham Treasuri SSIA
PT Surya Internusa Semesta Tbk (SSIA) telah melakukan pengalihan sebagian dari saham treasuri sebanyak 62,93 juta kepada PT Dwimuria Investama Andalan, yang merupakan perusahaan holding dari grup Djarum.
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 25 Juli 2025, dijelaskan bahwa pengalihan saham treasuri SSIA sebanyak 62.930.200 kepada Dwimuria Investama Andalan berlangsung pada 22 Juli 2025 dengan harga jual Rp 2.700 per saham.
Harga jual tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata harga penutupan perdagangan harian di bursa efek selama 90 hari terakhir sebelum transaksi dilakukan. Dengan demikian, Dwimuria Investama Andalan mengeluarkan dana sebesar Rp 169,91 miliar untuk memperoleh saham treasuri SSIA.
Proses pengalihan saham treasuri ini difasilitasi oleh Mandiri Sekuritas. Saat ini, SSIA memiliki total 156.709.900 saham treasuri, dan perseroan juga telah mengalokasikan saham treasuri pada tahap pertama, tahap kedua, serta sebagian tahap ketiga kepada pihak-pihak dalam perusahaan.