Industri komponen pesawat Indonesia masih kalah jauh dari Singapura
Hampir 60 persen perawatan pesawat maskapai di Indonesia masih dilakukan di Singapura.
Menteri Perindustrian, Saleh Husin mengakui industri komponen pesawat Indonesia masih kalah jauh dibanding Singapura. Saat ini, hampir 60 persen perawatan pesawat maskapai di Indonesia masih dilakukan di Singapura.
Meski demikian, Saleh berharap dengan adanya Paket Kebijakan VII yang pembebasan biaya bea masuk komponen pesawat udara mampu memberi insentif bagi industri Repair Maintenance Overhaul (RMO) pesawat di Indonesia, khususnya Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia.
"PPn menjadi nol untuk sparepart di luar negeri agar daya saing bisa menjadi lebih baik di dalam negeri, Karena kebanyakan komponen, repair, dan maintenance kebanyakan kan di luar negeri. Saya harapkan agar ini akan berkembang," kata Saleh kepada wartawan di Tangerang, Jumat (4/3).
Saleh menyebut, Indonesia dalam perkembangannya masuk ke dalam peringkat 20 besar industri perawatan pesawat udara. Dengan adanya insentif dari Pemerintah, industri ini juga mampu serap teknologi terbaik dari beberapa perusahaan spesialisasi pesawat seperti Airbus.
"Saya kira dengan perkembangan yang besar Indonesia masih masuk dalam rangking 20 besar, artinya bisa menjadi 10 besar, didukung oleh MRO lebih baik, fasilitas, misalnya selama ini vulkanisir barang-barang pesawat," tuturnya.
Direktur Teknik dan Teknologi Informasi GMF AeroAsia, Iwan Joeniarto mengakui punya segudang pengalaman dengan industri komponen pesawatnya. Apalagi, industri di Singapura sudah terintegrasi dengan komponen pendukung lainnya.
"Kemudahan dari pemerintanya itu yang membuat Singapura lebih menarik, adanya kemudahan masuk suku cadang, pajak dan lainnya. Tapi, bukan berarti Indonesia tidak menarik," kata Iwan.
Baca juga:
Pilot Saudi tewas saat mendaratkan pesawat, penumpang panik
Dana Rp 350 miliar tak cukup bayar pesangon 1.400 karyawan Merpati
4 Teknologi keren ini segera lengkapi dunia penerbangan
Pegawai Merpati: BUMN lakukan kebohongan publik soal pesangon
Maskapai AS ganti nama pesawat jadi 'Gay' demi mendukung LGBT
BUMN siap jual Merpati ke asing hingga 100 persen
Maskapai ini larang penumpang gemuk naik pesawat