Industri Daur Ulang Tangguh Hadapi Krisis Global, PT Mitra Saruta Produksi Hingga 1,4 Juta Sarung Tangan per Bulan
Bahkan, sektor daur ulang yang dijalankan perusahaan dinilai memiliki ketahanan tinggi terhadap berbagai krisis, termasuk saat pandemi COVID-19.
Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Hoo Yanto Andrian, menegaskan bahwa industri yang dipimpinnya tetap stabil di tengah berbagai ancaman global. Bahkan, sektor daur ulang yang dijalankan perusahaan dinilai memiliki ketahanan tinggi terhadap berbagai krisis, termasuk saat pandemi COVID-19.
"Ancaman global ini, produksi aman. Alhamdulillah aman. Tidak ada kendala berarti," ujar Hoo Yanto di Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (16/4).
Ia menjelaskan, selama lebih dari tiga dekade menjalankan usaha sejak perusahaan berdiri pada 1989, berbagai krisis telah dilalui tanpa dampak signifikan terhadap operasional. Menurutnya, karakter industri daur ulang yang berkelanjutan menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas bisnis.
Selain mampu bertahan, perusahaan juga terus menunjukkan pertumbuhan. Hoo Yanto memastikan tidak ada pengurangan tenaga kerja, bahkan jumlah karyawan terus meningkat seiring peningkatan produksi.
"Tidak ada pengurangan karyawan, justru selalu nambah. Alhamdulillah lancer," katanya.
Mempekerjakan Karyawan
Saat ini, PT Mitra Saruta Indonesia mempekerjakan sekitar 1.700 karyawan. Dalam operasionalnya, perusahaan juga melakukan transformasi teknologi dari sistem manual menuju otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi produksi.
"Dulu kita masih tergantung dengan skill manual. Sekarang sudah banyak proses yang berjalan otomatis, jadi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada keterampilan individu," jelasnya.
Dari sisi produksi, perusahaan mampu menghasilkan sekitar 1,3 juta hingga 1,4 juta unit sarung tangan per bulan. Produk tersebut dipasarkan untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.
Masih Didominasi Jepang
Pasar ekspor terbesar masih didominasi Jepang, yang telah menjadi mitra utama selama lebih dari 30 tahun. Sementara itu, Amerika Serikat menempati posisi kedua sebagai negara tujuan ekspor.
Hoo Yanto menambahkan, aktivitas ekspor telah dilakukan sejak dua hingga tiga tahun setelah perusahaan berdiri. Saat ini, volume ekspor mencapai hampir 100 kontainer setiap bulan, dengan dukungan pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam satu dekade terakhir.
Dalam proses produksinya, perusahaan mengandalkan bahan baku daur ulang dengan volume mencapai sekitar 3.000 ton limbah per bulan. Sekitar 10 persen bahan baku masih diimpor, sementara sisanya dipasok oleh lebih dari 100 pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di dalam negeri.
"Hubungan dengan UKM sangat penting, karena bahan baku waste ini tidak bisa sepenuhnya didapat langsung dari perusahaan besar," ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui adanya dampak dari konflik global, terutama terhadap kenaikan biaya energi dan logistik. Namun, strategi keberlanjutan yang telah diterapkan sejak beberapa tahun terakhir membuat perusahaan tetap mampu menjaga stabilitas operasional.
Dengan kinerja tersebut, PT Mitra Saruta Indonesia optimistis dapat terus berkembang di tengah dinamika global, sekaligus memperkuat peran industri daur ulang sebagai sektor yang tangguh dan berkelanjutan.