INDEF Sarankan Pemerintah Perluas Insentif EV dan Energi Hijau
Indef menilai insentif kendaraan listrik dan energi terbarukan dapat memperkuat ekonomi Indonesia di tengah tekanan global sepanjang 2026.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pengembangan kendaraan listrik dan energi terbarukan dapat menjadi salah satu strategi memperkuat ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5 persen.
Menurut dia, kondisi tersebut masih dipengaruhi berbagai tantangan struktural dan perlambatan ekonomi global yang berdampak pada perdagangan internasional serta investasi.
Meski demikian, Esther memperkirakan stabilitas makroekonomi Indonesia masih terjaga, dengan inflasi sekitar 3 persen dan nilai tukar rupiah di level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.
Ia juga menilai sektor perbankan tetap menjadi penopang penting perekonomian melalui fungsi intermediasi dan penyaluran kredit.
Insentif EV Perkuat Investasi
Dalam menghadapi tekanan global, Esther menilai pemerintah perlu memperluas insentif untuk sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Menurut dia, pembangunan infrastruktur kendaraan listrik dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk beralih ke mobil listrik sekaligus membuka peluang investasi baru di sektor industri hijau.
"Jika ingin memberikan insentif lebih besar untuk generate renewable energy sehingga penyediaan energi terbarukan lebih banyak di Indonesia. Kemudian beri insentif untuk pembangunan infrastruktur mobil listrik sehingga orang beli tidak takut mogok atau yakin bahwa mobil listrik menggunakan energi yang murah," katanya dikutip Antara, Selasa (12/5/2026).
Indef menilai kebijakan insentif kendaraan listrik sebelumnya telah menarik minat investor global untuk membangun basis produksi di Indonesia.
Dalam catatan Indef, investasi asing di sektor kendaraan listrik mencapai 2,73 miliar dolar AS dalam tiga tahun terakhir.
Risiko Perlambatan Global Masih Membayangi
Selain mendorong sektor energi hijau, Esther juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas sistem keuangan melalui kebijakan makroprudensial yang akomodatif.
Menurut dia, langkah tersebut diperlukan agar keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas tetap terjaga.
Indef juga menyoroti risiko perlambatan ekonomi global yang dapat memengaruhi sektor informal dan pelaku UMKM di dalam negeri.
Penurunan permintaan global dinilai berpotensi menekan ekspor Indonesia, terutama untuk komoditas unggulan seperti batu bara dan crude palm oil (CPO).
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Produk domestik bruto atas dasar harga konstan tercatat Rp3.447,7 triliun, sedangkan atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun.