Imbas Pelemahan Rupiah, Badan Usaha Tanggung Beban Proyek Jalan Tol
Belum ada badan usaha pelaksana proyek yang mengajukan perubahan biaya konstruksi.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat adanya dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap konstruksi proyek jalan tol. Kenaikan beban biaya konstruksi masih ditanggung oleh badan usaha.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PU, Ni Komang Rasminiati, mencermati dampak pelemahan rupiah pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dia mengaku belum ada badan usaha pelaksana proyek yang mengajukan perubahan biaya konstruksi.
"Kalau di dalam perjanjian pengusahaan jalan tol sampai sejauh ini belum memang ada usulan adanya usulan penyesuaian terhadap biaya-biaya konstruksi yang terdampak adanya kenaikan biaya BBM dan lain-lain," kata Komang di Kantor Kementerian PU, Jakarta, Jumat (5/6).
Dia menjelaskan, biaya konstruksi menjadi tanggungan badan usaha jika tak ada kebijakan khusus dari pemerintah. "Kalau di dalam perjanjian jalan tol sejauh ini kalau tidak ada kebijakan lain dari pemerintah memang itu semua harusnya menjadi risiko badan usaha," terangnya.
Komang mengamini tetap ada dampak pelemahan rupiah yang mengerek harga BBM terhadap proses konstruksi. Misalnya, terhadap waktu pelaksanaan proyek.
"Tapi mungkin nanti tetap akan ada dampaknya, mungkin progres konstruksinya akan terdampak karena adanya kenaikan biaya konstruksi akibat dari kenaikan biaya BBM ini," ujar Komang.
Rupiah Melemah
Sebelumnya, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Jumat, (5/6/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi bergerak 18.050-18.120 hari ini.
Mengutip Antara, rupiah dibuka turun 17 poin atau 0,09% menjadi 18.066 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya 18.049 per dolar.
Sementara itu, berdasarkan data Google Finance, saat dipantau pukul 09.10 WIB, dolar Amerika Serikat terhadap rupiah turun tipis 0,11% menjadi 18.040. Pada pukul 09.13 WIB, dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.027. Dolar AS terhadap rupiah dibuka turun 0,09% menjadi 18.044.
Pada penutupan sebelumnya, dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.060 berdasarkan data Google Finance.
Prediksi Rupiah
Sebelumnya, nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026. Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.050 hingga Rp 18.120 per dolar AS.
"Untuk perdagangan Jumat mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.050 - Rp 18.120," kata Ibrahim kepada media, Jumat, 5 Juni 2026.
Adapun pada perdagangan Kamis kemarin, rupiah ditutup melemah 82 poin menjadi Rp 18.049 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang Garuda sempat tertekan hingga 90 poin di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan sejumlah sentimen domestik yang membebani pasar.
Investor Hati-hati
Ibrahim mengatakan investor masih bersikap hati-hati menyusul meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Meskipun Washington telah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, pelaksanaannya masih bergantung pada penghentian aksi permusuhan oleh kelompok Hizbullah.
Situasi di kawasan juga kembali memanas setelah muncul laporan serangan rudal Iran yang menyasar Kuwait dan Bahrain. Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan melakukan serangan terhadap Pulau Qeshm milik Iran yang berada di dekat Selat Hormuz.
Sementara itu, militer Israel terus memperluas operasi di wilayah Lebanon selatan yang selama ini menjadi basis Hizbullah. Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.