Harga pangan Ramadan naik, DPR tuding kesalahan ada di pemerintah
Jika ada lonjakan harga tinggi, maka ada kesalahan antara data milik pemerintah atau perencanaan yang salah.
Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Daniel Johan menilai fenomena naiknya harga pangan di bulan Ramadan adalah hal yang biasa. Namun hal tersebut menjadi tidak normal jika kenaikan harga sangat tinggi.
"Seperti gula dan bawang ini harganya sangat melonjak. Kalau itu selalu terulang berarti ada hal-hal yang salah sehingga mempengaruhi kenaikan harga tersebut," kata Daniel dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (4/6).
Menurutnya, jika ada lonjakan harga tinggi, maka ada kesalahan antara data milik pemerintah atau perencanaan yang salah. Meski begitu, dirinya tidak bisa memastikan kenaikan berbagai harga pangan saat ini apakah dikarenakan kesalahan data atau kekeliruan perencanaan.
Sehingga, dia mengimbau agar pemerintah bisa melakukan pembenahan data sehingga bisa melakukan perencanaan yang baik. "Seharusnya kita bisa surplus seperti Vietnam, tapi kenapa kita masih harus impor. Sehingga pemerintah harus memikirkan kebijakan apa yang harus diambil supaya tepat," imbuhnya.
Sebelumnya, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian Yanuardi mencatat ada kenaikan harga pangan di pasar ritel hari ini. Seperti cabai merah di pasar induk harganya Rp 15.000 per Kg, tapi di ritel harga Rp 30.000 per Kg.
Sedangkan, bawang merah di pasar induk Rp 26.000 hingga Rp 29.000, tapi di Pasar Minggu harganya bisa sampai Rp 35.000 hingga Rp 40.000.
Baca juga:
Stabilkan harga pangan Ramadan, Kementan klaim sudah genjot produksi
Jelang bulan Ramadan, Indah Dewi Pertiwi gelar sunatan massal
Tanpa terobosan, BPS pesimis harga daging sapi bisa Rp 80.000 per Kg
Program mudik gratis Kemenhub belum banyak peminat
Begini kesibukan Ahok selama bulan Ramadan nanti
Acara 'Ngabuburit Akbar' Bakal Digelar di Ancol
Jelang Ramadan, warung remang di pesisir pantai Bengkulu di bongkar