Harga Emas Dunia Naik Hari Ini, Pelaku Pasar Masih Pantau Kondisi Timur Tengah
Berdasarkan informasi dari CNBC, pada Rabu (3/6), harga emas AS ditutup naik 0,3 persen menjadi USD 4.519,90 per ons.
Harga emas mengalami peningkatan pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Indonesia). Kenaikan ini terjadi karena para pelaku pasar terus mengikuti perkembangan terbaru di Timur Tengah, terutama setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai kelanjutan pembicaraan dengan Iran.
Berdasarkan informasi dari CNBC, pada Rabu (3/6), harga emas AS ditutup naik 0,3 persen menjadi USD 4.519,90 per ons.
Fawad Razaqzada, seorang analis pasar dari Forex.com, berpendapat bahwa pergerakan harga emas saat ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor makroekonomi yang signifikan.
"Tren pasar emas bergantung pada arah harga minyak, imbal hasil (yield) obligasi, dan pergerakan dolar AS. Semua faktor tersebut, pada gilirannya, saling terikat dengan situasi di Timur Tengah," tutur Razaqzada.
Ia juga menambahkan bahwa saat ini pasar tampak kehilangan arah karena pelaku pasar lebih memilih untuk bersikap wait and see.
"Untuk membuat saya kembali optimistis terhadap emas, kita perlu melihat setidaknya ada momentum kenaikan baru yang menunjukkan kembalinya para pembeli. Namun saat ini, pasar tampak kurang bergairah karena partisipan sebagian besar sedang menunggu kepastian sinyal, terutama dari perkembangan di Timur Tengah," jelasnya.
Di sisi geopolitik, kantor berita Mehr dari Iran melaporkan bahwa Iran sedang mempertimbangkan proposal kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk menghentikan konflik antara kedua negara. Laporan ini muncul setelah Trump mengonfirmasi bahwa negosiasi untuk mencapai kesepakatan tersebut masih berlangsung.
Sejak pecahnya konflik, harga emas terus berada di bawah tekanan. Lonjakan harga energi telah memicu kekhawatiran inflasi, yang kemudian melahirkan ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi. Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai instrumen lindung nilai (hedge) terhadap inflasi, daya tariknya sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) cenderung berkurang ketika suku bunga berada pada level yang tinggi.
Data Tenaga Kerja AS dan Proyeksi Harga ke Depan
Selain isu geopolitik, perhatian investor pada minggu ini juga tertuju pada rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Beberapa data yang akan dirilis mencakup laporan ketenagakerjaan versi ADP yang dijadwalkan pada hari Rabu dan data resmi ketenagakerjaan (Non-Farm Payroll) yang akan diumumkan pada hari Jumat.
Pasar akan menganalisis data ini untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), di masa mendatang.
Di sisi lain, Commerzbank telah menurunkan proyeksi harga emas untuk akhir tahun ini menjadi USD 4.800 per troy ounce, dari perkiraan sebelumnya yang mencapai USD 5.000. Meskipun demikian, bank asal Jerman ini tetap mempertahankan target harga emas di angka US$ 5.200 untuk akhir tahun 2027.
Mereka mencatat bahwa faktor struktural yang mendukung penguatan harga emas dalam jangka panjang masih tetap ada. "Selain memangkas proyeksi harga emas, melemahnya permintaan industri terhadap perak juga mengindikasikan bahwa harga perak kemungkinan akan sedikit lebih rendah," tutup Commerzbank dalam analisanya.