Harga Emas Diprediksi Bakal Terus Meroket Hingga 2030, Ini Faktor Pendorongnya
Reli emas yang terjadi saat ini memiliki kemiripan dengan lonjakan besar pada era 1970-an dan awal 2000-an.
Harga emas diperkirakan masih akan melanjutkan tren kenaikan dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, lembaga investasi global Rockefeller Global Investment Management memprediksi harga logam mulia tersebut bisa menembus USD 10.000 per ounce pada 2030.
Mengutip laman Kitco.com, prediksi tersebut disampaikan oleh ahli strategi makro dan pasar Rockefeller Global Investment Management, Doug Moglia. Ia menilai emas masih menjadi aset utama dalam siklus bullish komoditas global yang baru, didorong meningkatnya pembelian bank sentral, ketegangan geopolitik, hingga pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Moglia, reli emas yang terjadi saat ini memiliki kemiripan dengan lonjakan besar pada era 1970-an dan awal 2000-an. Bedanya, kali ini pendorong utama datang dari perubahan cara bank sentral global mengelola cadangan devisa pasca perang Rusia-Ukraina.
Moglia mengatakan, pembelian emas oleh bank sentral global meningkat tajam sejak 2022 setelah cadangan devisa Rusia terkena sanksi Barat. Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar AS dan euro.
Ia menyebut, selama periode 2022 hingga 2024, bank sentral dunia membeli lebih dari 1.000 ton emas setiap tahun. Jumlah itu setara sekitar 20-25 persen dari total produksi tambang emas global tahunan.
Menurutnya, emas kini dipandang sebagai aset cadangan yang lebih aman karena tidak memiliki risiko pihak lawan maupun ketergantungan terhadap sistem keuangan tertentu. Hal itu membuat posisi emas semakin kuat dalam portofolio cadangan negara-negara dunia.
Selain pembelian bank sentral, reli emas juga semakin diperkuat oleh masuknya investor ritel dan aliran dana ETF sepanjang 2025. Kepemilikan ETF emas global bahkan melonjak hampir 20 persen hingga melampaui 3.000 ton metrik.
Meski demikian, Moglia mengingatkan bahwa dominasi investor finansial juga dapat meningkatkan volatilitas harga emas dalam jangka pendek akibat tingginya aktivitas spekulatif di pasar.
Harga Emas Diproyeksi Capai USD 10.000
Rockefeller menilai pasar bullish emas saat ini masih berada pada tahap awal. Moglia menjelaskan, sejarah menunjukkan siklus bullish emas biasanya berlangsung hampir satu dekade.
Ia menjelaskan reli emas saat ini baru memasuki tahun keempat dengan kenaikan sekitar 200 persen. Karena itu, peluang kenaikan lanjutan dinilai masih terbuka lebar hingga akhir dekade.
"Kami memperkirakan emas akan diperdagangkan di atas USD 8.000 per ounce sebelum 2030, dengan potensi overshoot hingga USD 10.000 per ounce," tulis Moglia dalam laporannya.
Selain pembelian bank sentral, prospek bullish emas juga ditopang oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve, risiko fiskal AS, serta ketegangan geopolitik global termasuk konflik Iran.
Moglia menilai perubahan rezim global yang menjadikan emas sebagai aset cadangan utama belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Karena itu, tren kenaikan harga emas diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam jangka menengah hingga panjang.
Perak dan Saham Tambang Ikut Diuntungkan
Selain emas, perak juga disebut menikmati dampak positif dari reli logam mulia global. Namun, Moglia menilai prospek kenaikan perak mulai lebih terbatas setelah lonjakan tajam sepanjang 2025.
Menurutnya, perak memiliki volatilitas lebih tinggi dibanding emas karena lebih dipengaruhi aktivitas spekulatif pasar. Meski begitu, permintaan industri terhadap perak tetap kuat, terutama dari sektor energi hijau dan kecerdasan buatan (AI).
Ia menyebut, pasar perak global telah mengalami defisit struktural sejak 2021 akibat meningkatnya kebutuhan panel surya, kendaraan listrik, semikonduktor, hingga jaringan listrik modern.
Selain logam mulia, Rockefeller juga melihat peluang besar pada saham perusahaan tambang emas dan perak. Margin keuntungan perusahaan tambang disebut meningkat tajam seiring lonjakan harga bullion.
Moglia mengatakan perusahaan tambang kini mampu menghasilkan arus kas bebas yang tinggi sekaligus memberikan leverage terhadap kenaikan harga emas. Karena itu, periode pelemahan saham tambang dinilai bisa menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.