Energi terbarukan jadi jalan keluar kenaikan tarif listrik
Pemerintah dinilai belum serius menggarap potensi energi baru terbarukan.
Keputusan pemerintah dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menaikkan tarif dasar listrik (TDL) untuk pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 dan 2.200 volt ampere (VA) awal bulan ini menuai banyak reaksi di kalangan masyarakat. Beberapa kalangan menilai langkah reformasi anggaran yang ditempuh tersebut cukup berat.
Peneliti Indonesia Budget Center (IBC), Roy Salam mengatakan, masalah kenaikan TDL sebenarnya bisa dipecahkan dengan pengembangan energi terbarukan yang jauh lebih hemat.
Kenaikan TDl saat ini menurutnya adalah hasil dari permasalahan politik anggaran energi di Indonesia. Dia menyebut, dari sisi politik, anggaran untuk membangun energi saat ini belum banyak mengalami perubahan.
"Di era Jokowi memang ada perubahan pola di mana subsidi energi dicabut cukup besar sehingga diharapkan tercipta ruang fiskal yang cukup besar yang bisa digunakan untuk membangun infrastruktur termasuk infrastruktur energi," ujar Roy di Jakarta, Kamis (17/12).
Roy menjelaskan, meski ada anggaran membangun infrastruktur energi, namun pembangunan lebih banyak dilakukan untuk membangun infrastruktur migas dan hal tersebut membuktikan belum cukup seriusnya pemerintah melalui lembaga lembaganya baik kementerian ESDM, Kementerian Riset , atau pun lembaga lain di bidang energi terbarukan .
"Permasalahan saat ini adalah bagaimana kemudian pemerintah membagi konsentrasi antara energi migas dan energi terbarukan. Bagaimana mengolah energi migas secara benar namun juga mengembangkan energi terbarukan, namun saat ini kebijakan energi terbarukan belum dapat di sinergikan kepada lembaga lembaga yang berwenang," lanjut Roy.
Indonesia menurutnya, memiliki beberapa sumber energi yang memanfaatkan siklus alam sebagai sumber energi, seperti air, angin, arus laut dan panas bumi telah banyak dikembangkan oleh perusahaan perusahaan baik swasta maupun BUMN di Indonesia .
Dalam buku Rencana Induk Pengembangan Energi Baru Terbarukan (RIPEBAT) 2010-2025 kementerian ESDM mencatat ke-enam provinsi tersebut adalah Papua, Kalimantan Timur, Sulawesi selatan, Kalimantan barat, sumatera utara , dan Aceh. ESDM juga mencatat bahwa untuk seluruh Indonesia, potensi energi skala besar dan kecil tidak kurang dari 75.670 MW, dan baru dimanfaatkan sebesar 4.200 MW atau 5,6 persen.
Direktur PT Energy Biomassa Indonesia (EBI) Satrio Astungkoro mengatakan, sebagai anak usaha PT Energy Management Indonesia, EBI terus konsisten dalam upaya mengembangkan energi terbarukan di Indonesia.
Banyak faktor seperti teknologi, pendanaan, dan ketersediaan bahan baku (biomasa) yang jadi permasalahan yang dialami PT EBI sebagai pengembang energi terbarukan.
"Saya yakin meskipun mengalami beberapa kendala peluang energi terbarukan di Indonesia sangat terbuka lebar hal ini mengingat sumber energi fosil yang bisa habis, ditambah negara negara di dunia pun sudah sepakat utk gunakan EBT di konferensi Paris kemarin," ujar Satrio.
Saat ini menurut Satrio PT EBI sebagai BUMN dengan bidang usaha Konservasi dan Konversi Energi Baru dan Terbarukan masih mengandalkan dana pribadi untuk mengembangkan produksi wood pellet sebagai sumber pengembangan.
Namun dia optimis bahwa wood pellet mampu membawa keuntungan dan menarik banyak investor sebagai sumber daya energi pilihan selain migas .
Baca juga:
Pertamina kelola Blok Mahakam, Total dan Inpex belum pasti nimbrung
Akhir 2015, ESDM pastikan teken kontrak bagi hasil Blok Mahakam
Cara Pertamina bantu pemerintah atasi pelemahan Rupiah
Perbaikan kilang, RI potensi raup penerimaan USD 10 juta per hari
Perluas jaringan, ESDM minta PGN operasikan pipa gas di Tarakan