Cara Pertamina bantu pemerintah atasi pelemahan Rupiah
Merdeka.com - Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Dwi Soetjipto, mengklaim pengoperasian Kilang Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, dan Unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di Cilacap, Jawa Tengah akan menekan pelemahan Rupiah yang terus berfluktuatif. Dua kilang tersebut dapat mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga pengeluaran dana dalam bentuk Dolar AS dapat ditekan.
"Kilang TPPI dan RFCC berpotensi mengurangi impor Premium. Ini langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi kurs Dolar AS," ujar Dwi di Gedung Utama Pertamina, Jakarta, Selasa (15/12).
Dengan beroperasinya dua unit kilang tersebut, kata dia, total besaran potensi pengurangan impor premium perusahaan pelat merah ini mencapai 91.000 barel per hari (bph) atau sekitar 33,21 juta bph per tahun. Dengan asumsi harga indeks pasar gasoline sekitar USD 61 per barel, nilai pengurangan impornya sebesar USD 1,99 miliar dalam setahun.
Selain itu, lanjut dia, dengan beroperasinya dua kilang ini, BUMN energi mampu menghemat impor premium hingga 30 persen. Kilang TPPI dan RFCC tersebut berpotensi menambah produksi premium sebanyak 91.000 barel per hari (bph) yang terdiri atas RFCC Cilacap 30.000 bph dan Kilang TPPI sebanyak 61.000 bph.
Mantan Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) ini juga mengatakan optimalisasi unit Integrated Supply Chain (ISC) milik Pertamina akan mampu mengatasi penguatan Dolar AS terhadap mata uang Rupiah.
"Saya diberi tahu oleh Direktur Keuangan Pertamina, Arif Budiman, tentang cara lain untuk mengatasi penguatan Dolar AS, yaitu dengan mengoptimalkan unit Integrated Supply Chain (ISC) punya Pertamina. Nantinya ISC akan mengoptimalkan pengadaan minyak mentah (crude) di dalam negeri," pungkas dia.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya