Ekonomi dunia membaik, BI ingatkan utang asing dilindung nilai
Dalam berutang harus betul-betul memperhatikan aspek produktivitas dan harus dikelola dengan baik.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, mengingatkan kalangan dunia usaha untuk berhati-hati ketika melakukan pinjaman atau berutang. Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi, ada baiknya dunia usaha melakukan upaya preventif dengan melakukan lindung nilai atau hedging pada utang.
"Jangan seperti sekarang di mana banyak perusahaan-perusahaan, yang mempunyai penerimaan dalam Rupiah, pinjam valas dan tidak dihedging dan akibatnya akan berdampak kepada laporan rugi laba dari pada perusahaan-perusahaan itu," ujarnya saat di Gedung BI, Jakarta, Jumat (3/1).
Agus menyampaikan bahwa dalam berutang harus betul-betul memperhatikan aspek produktivitas dan harus dikelola dengan baik. "Kita sama-sama mengamati bahwa berutang itu tidak salah, tetapi kalau berhutang yang tidak perlu itu sebaiknya tidak perlu dilakukan," ungkapnya.
Menurutnya, perbaikan ekonomi dunia, akan menimbulkan peningkatan yield bunga surat utang di negara-negara maju. Akibatnya, dana asing bakal lari dari dalam negeri sehingga Indonesia akan kekeringan likuiditas.
Saat itu, nilai tukar Rupiah akan semakin melemah dan pada akhirnya berdampak pada kinerja utang asing perusahaan.
"Kita sudah lihat bagaimana yield daripada Rupiah kita itu sudah cukup tinggi. Nanti kalau di luar negeri terjadi peningkatan-peningkatan bunga, itu akan betul-betul berdampak kepada Indonesia," jelas dia.
Baca juga:
BI telah prediksi dana asing bakal lari keluar negeri
BI: Inflasi kuartal I/2014 akan terkendali
Gubernur BI ingatkan Bank Mutiara lebih transparan
Awasi bank berdampak sistemik, OJK janji kompak dengan BI
Bedol desa ke OJK, 1.150 pegawai BI dikontrak 3 tahun