E-Commerce China Ini Gagal di RI, Tapi Jadi Raksasa di Negaranya
Raksasa e-commerce asal China, membuktikan dirinya belum kehabisan tenaga.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan memudarnya daya beli masyarakat, JD.com, raksasa e-commerce asal China, membuktikan dirinya belum kehabisan tenaga. Untuk kuartal pertama 2025, perusahaan ini mencatat pendapatan fantastis sebesar 301 miliar yuan atau sekitar Rp690 triliun, jauh melampaui ekspektasi analis.
Angka itu bukan sekadar cerminan dari kekuatan finansial. Ia juga menunjukkan ketahanan model bisnis, strategi adaptif, serta keberhasilan JD.com dalam menavigasi tantangan, mulai dari tarif tinggi dari Amerika Serikat hingga pelemahan konsumsi domestik akibat krisis sektor properti di China.
Diskon, Subsidi, dan Ekspansi Pasar Baru
Seperti rekan-rekan senegaranya seperti Alibaba, JD.com memutar otak untuk menahan agar konsumen tidak sepenuhnya menutup dompet. Diskon besar-besaran dan strategi pemangkasan harga menjadi senjata utama. Dukungan subsidi dari pemerintah turut memperkuat daya beli masyarakat.
JD.com juga menggandakan upaya promosi. Mereka menjalin kemitraan dengan merek-merek internasional seperti Crocs dan Massimo Dutti, dan bahkan melangkah ke sektor baru pengiriman makanan. Lewat layanan JD Takeaway, mereka memasuki pasar yang sudah padat pesaing seperti Meituan dan Ele.me milik Alibaba.
Meski bisnis baru ini masih menghadapi tantangan berat, CEO JD.com Sandy Xu menyebut bahwa mereka melihat “tanda-tanda menggembirakan dari inisiatif-inisiatif baru.”
Namun, di balik pertumbuhan ini, JD.com juga menghadapi realitas bisnis yang tidak selalu mulus di luar negeri. Salah satunya adalah kisah kepergiannya dari Indonesia.
JD.ID, Kenangan di Indonesia
Tak banyak yang menyangka bahwa JD.ID, cabang lokal JD.com yang hadir sejak 2015 di Indonesia, akan menutup layanan secara permanen pada 31 Maret 2023. Di masa jayanya, JD.ID sempat menjadi salah satu e-commerce paling dikenal di tanah air, bahkan menembus posisi 10 besar berdasarkan trafik menurut iPrice.
Namun persaingan yang ketat di pasar lokal, dominasi pemain besar seperti Tokopedia, Shopee, hingga Lazada, serta perubahan arah strategi global JD.com, membuat mereka menarik diri.
"Keputusan ini merupakan langkah strategis JD.com untuk fokus pada pembangunan jaringan rantai pasok lintas-negara, dengan logistik dan pergudangan sebagai inti bisnis," ujar Setya Yudha Indraswara, Head of Corporate Communications & Public Affairs JD.ID.
Langkah ini tak datang tanpa konsekuensi. Pada Desember 2022, JD.ID melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 200 karyawannya. Ini bagian dari strategi efisiensi menghadapi dinamika industri yang berubah cepat.