DPKP Kalsel Perkuat Irigasi Sawah 13 Km, Antisipasi Kemarau Panjang 2026
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan (DPKP Kalsel) perkuat irigasi sawah sepanjang 13 kilometer untuk hadapi potensi kemarau panjang 2026, memastikan ketahanan pangan daerah.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan (DPKP Kalsel) mengambil langkah proaktif dengan memperkuat jaringan irigasi sawah sepanjang 13 kilometer. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi pada tahun 2026 mendatang. Langkah strategis ini bertujuan menjaga produktivitas pertanian di wilayah tersebut.
Penguatan infrastruktur irigasi ini melibatkan pemeliharaan jaringan irigasi tersier serta pengembangan sistem pendukung distribusi air. Muhammad Anton Ciptady, Kepala Seksi Lahan dan Irigasi Pertanian DPKP Kalsel, menyatakan program ini didukung anggaran dari Kementerian Pertanian serta alokasi daerah. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadapi ancaman perubahan iklim.
Fokus utama adalah memastikan pasokan air yang memadai bagi lahan persawahan di beberapa kabupaten. Kabupaten Balangan, Tapin, Hulu Sungai Selatan, dan Barito Kuala menjadi prioritas dalam rencana pemeliharaan jaringan irigasi tersier. DPKP Kalsel berharap program ini dapat menjaga kelancaran distribusi air dan mencegah dampak kekeringan pada petani.
Strategi Penguatan Jaringan Irigasi DPKP Kalsel
DPKP Kalsel secara aktif memperkuat jaringan irigasi tersier di berbagai titik persawahan di Kalimantan Selatan. Langkah ini merupakan bagian dari persiapan menghadapi musim kemarau panjang yang diprediksi akan datang pada tahun 2026. Pemeliharaan dan pengembangan sistem irigasi menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pertanian daerah.
Muhammad Anton Ciptady menjelaskan bahwa program penguatan irigasi ini didanai oleh Kementerian Pertanian dan juga alokasi anggaran dari pemerintah daerah. Ketersediaan dana ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian di tengah tantangan perubahan iklim. Total panjang jaringan irigasi yang diperkuat mencapai 13 kilometer.
Selain pemeliharaan, DPKP Kalsel juga melakukan pengembangan melalui kegiatan Survey, Investigasi, dan Desain (SID) jaringan irigasi tersier. Kegiatan SID ini mencakup lahan sekitar 4.000 hektare. Tujuannya adalah merancang sistem irigasi yang lebih efektif dan efisien untuk mendukung petani.
Proses Verifikasi dan Distribusi Bantuan Irigasi
Saat ini, DPKP Kalsel tengah melakukan penyusunan daftar Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) untuk program pengembangan irigasi. Proses CPCL ini krusial untuk memastikan bahwa program tersebut tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan wilayah pertanian. Keterlibatan petani dalam proses ini sangat penting.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan juga mengalokasikan bantuan sarana irigasi berupa 235 unit irigasi perpompaan dan 58 unit irigasi perpipaan. Bantuan ini diharapkan dapat memperkuat suplai air ke area persawahan yang membutuhkan. Ini adalah upaya nyata untuk meningkatkan kapasitas irigasi di tingkat lokal.
Anton Ciptady menyampaikan bahwa realisasi bantuan irigasi tersebut masih menunggu kesiapan pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah daerah diharapkan segera menyampaikan data CPCL sebagai dasar pelaksanaan kegiatan di lapangan. Koordinasi yang baik antar tingkatan pemerintahan sangat dibutuhkan untuk mempercepat distribusi bantuan.
Prioritas Daerah dan Optimisme Ketahanan Pangan
Beberapa daerah telah diidentifikasi sebagai prioritas dalam rencana pemeliharaan jaringan irigasi tersier. Kabupaten Balangan, Tapin, Hulu Sungai Selatan, dan Barito Kuala termasuk dalam daftar tersebut. Pemilihan daerah ini didasarkan pada kebutuhan dan potensi dampak kekeringan.
Anton menegaskan bahwa pemeliharaan jaringan irigasi adalah prioritas utama DPKP Kalsel untuk menjaga kelancaran distribusi air. Hal ini bertujuan agar petani tidak terdampak kekeringan saat musim kemarau. Ketersediaan air yang stabil sangat vital bagi keberlangsungan pertanian.
DPKP Kalsel berharap pemerintah kabupaten/kota dapat segera menyampaikan data CPCL agar seluruh program dapat direalisasikan tepat waktu. Dengan demikian, produktivitas pertanian di Kalimantan Selatan dapat terus terjaga. Anton optimistis produksi pertanian akan tetap stabil meskipun dihadapkan pada potensi kemarau panjang pada 2026.
Sumber: AntaraNews