Diversifikasi energi bisa selamatkan neraca dagang RI
Impor minyak masih tinggi.
Bank Indonesia (BI) mendesak koleganya di pemerintahan untuk serius melakukan diversifikasi energi. Hanya dengan itu, neraca perdagangan Indonesia bakal tertolong.
Hingga Maret lalu, neraca dagang Indonesia baru mencatat surplus USD 680 juta. Ini lantaran impor migas masih tinggi, sekitar USD 3,5-USD 3,9 miliar.
"Mau tidak mau Indonesia jangka panjang harus ada diversifikasi energi. Karena kalau tidak, kita ini akan impor minyak terus. Kalau impor minyak kan akan membebani neraca perdagangan, neraca pembayaran," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di kantornya, Jakarta, Jumat (2/5).
Surplus neraca perdagangan membuat defisit neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal I-2014 hanya berkisar 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Biasanya aktivitas impor lebih tinggi di kuartal II dan III. Pada kuartal I, orang baru mulai aktivitas, Januari-Februari-Maret mulai jalan, April baru kencang. Kalau kita tidak ada penaikan ekspor yang signifikan, maka itu bisa menjadi tantangan bagi neraca perdagangan," ungkapnya.
Baca juga:
Tak ada kilang baru, perdagangan sektor migas konsisten defisit
Triwulan I-2014, laba bruto Indofood naik 14,2 persen
Februari 2014, neraca dagang RI diproyeksi surplus USD 760 juta
Bank Indonesia yakin neraca perdagangan surplus
MS Hidayat tak terima defisit perdagangan karena UU Minerba