Bulog manfaatkan pusat logistik berikat barang pokok
Selain Bulog, perusahaan multinasional di bidang pangan seperti Cargill, Fonterra dan Japfa juga sudah menyatakan minatnya untuk memanfaatkan PLB barang pokok ini. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan ini bisa lebih mendapatkan kepastian pasokan bahan baku untuk industri pengolahannya.
Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menambah jumlah Pusat Logistik Berikat (PLB) dari sebelumnya 12 menjadi 20 PLB. Dari 8 PLB tambahan, salah satunya yaitu PLB untuk barang pokok seperti kedelai, gandum, dan jagung.
Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi, mengatakan salah satu perusahaan yang akan memanfaatkan PLB tersebut yaitu Perum Bulog. PLB tersebut akan dimanfaatkan Bulog untuk menampung bahan pangan, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun diekspor ke negara lain.
"Harapan kita adalah Bulog bisa menjadikan buffer stock untuk suplai ke domestik dan bisa jual ke negara lain. Saat harga dunia murah, ambil (beli). Saat butuh, dijual. Di samping itu, ini untuk menjaga stabilitas dalam negeri," ujar dia di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (2/4).
Dia menjelaskan, saat ini DJBC masih terus berkomunikasi dengan Perum Bulog terkait hal tersebut. "Ini justru kita kembangkan karena ada demand. Yang sudah berkomunikasi dengan kita adalah Bulog," kata dia.
Selain Bulog, perusahaan multinasional di bidang pangan seperti Cargill, Fonterra dan Japfa juga sudah menyatakan minatnya untuk memanfaatkan PLB barang pokok ini. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan ini bisa lebih mendapatkan kepastian pasokan bahan baku untuk industri pengolahannya.
"Kemudian, untuk gandum itu Japfa, Cargill. Kemudian ada Fonterra untuk susu dari New Zealand," tandas dia.
Reporter: Septian Deny
Sumber: Liputan6
Baca juga:
Mendag Enggar tantang swasta jual daging sapi Rp 80 ribu per kg
Jelang Ramadan & Idul Fitri, Bulog Sumut impor 200 ton daging kerbau asal India
Pengamat soal cadangan beras minus: Belum pernah terjadi kecuali saat krisis
Jelang bulan puasa, Bulog gencarkan operasi pasar murah
BPS manfaatkan teknologi terbaru BPPT tingkatkan akurasi data produksi beras
Bulog gandeng BPS perkuat data pangan
219.000 Ton beras impor asal 4 negara masuk sampai Mei