BPS Catat Nilai Ekspor Impor Jawa Barat 2025 Capai US$38,72 Miliar, Surplus Kuat
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat merilis data Ekspor Impor Jawa Barat 2025 yang menunjukkan nilai ekspor mencapai US$38,72 miliar dan surplus perdagangan signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mengumumkan data kinerja perdagangan luar negeri provinsi tersebut sepanjang tahun 2025. Nilai ekspor Jawa Barat pada periode tersebut tercatat mencapai 38,72 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 2,24 persen dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya, yaitu 2024.
Kenaikan nilai ekspor ini didorong oleh sektor nonmigas yang berkontribusi sebesar 38,45 miliar dolar AS, naik 2,44 persen. Sementara itu, ekspor migas mengalami penurunan 19,39 persen, dengan nilai 272,53 juta dolar AS. Data ini disampaikan oleh Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Jabar, Ninik Anisah, di Bandung pada hari Senin.
Secara keseluruhan, neraca perdagangan Jawa Barat sepanjang tahun 2025 mencatatkan surplus yang substansial. Surplus ini mencapai 26,81 miliar dolar AS, hasil dari total ekspor yang jauh melampaui nilai impor. Kinerja positif ini mengindikasikan ketahanan ekonomi regional di tengah dinamika perdagangan global.
Kinerja Ekspor Jawa Barat Sepanjang 2025
Kontribusi ekspor Jawa Barat pada tahun 2025 didominasi oleh sektor industri, yang menyumbang 98,70 persen dari total nilai. Sektor migas berkontribusi 0,70 persen, diikuti oleh sektor pertanian sebesar 0,59 persen, dan sektor tambang 0,01 persen. Struktur ini menunjukkan kuatnya basis manufaktur provinsi dalam mendorong pertumbuhan ekspor.
Pada bulan Desember 2025 saja, nilai ekspor Jawa Barat mencapai 3,28 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan kenaikan 2,3 persen secara bulanan (month to month/mtm) dibandingkan November 2025. Apabila dibandingkan dengan Desember 2024, nilai ekspor Jawa Barat juga mengalami kenaikan sebesar 4,08 persen.
Berdasarkan golongan barang, komoditas utama yang diekspor sepanjang Januari-Desember 2025 adalah kendaraan dan bagiannya, dengan nilai 8,50 miliar dolar AS. Kemudian diikuti oleh mesin dan perlengkapan elektrik senilai 6,24 miliar dolar AS, serta mesin dan peralatan mekanis senilai 3,24 miliar dolar AS. Ini mencerminkan spesialisasi industri Jawa Barat.
Amerika Serikat tetap menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi Jawa Barat, dengan nilai mencapai 6,35 miliar dolar AS. Filipina menyusul dengan 3,53 miliar dolar AS, dan Jepang di posisi ketiga dengan 2,84 miliar dolar AS. Ketergantungan pada pasar-pasar utama ini menunjukkan pentingnya menjaga hubungan dagang yang stabil.
Dinamika Impor dan Neraca Perdagangan Jabar 2025
Sementara itu, nilai impor Jawa Barat pada tahun 2025 tercatat sebesar 11,91 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan 8,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Penurunan impor ini berpotensi mengindikasikan efisiensi dalam penggunaan bahan baku atau pergeseran pola konsumsi.
Untuk bulan Desember 2025, impor Jawa Barat senilai 1,08 miliar dolar AS, naik 26,57 persen dibanding November 2025 (mtm). Namun, jika dibandingkan dengan Desember 2024, impor mengalami penurunan 7,64 persen. Struktur penggunaan impor sepanjang 2025 didominasi oleh bahan baku/penolong sebesar 81,34 persen. Barang modal menyumbang 10,50 persen, dan barang konsumsi 8,16 persen.
Golongan barang impor terbesar sepanjang Januari-Desember 2025 adalah mesin dan perlengkapan elektrik senilai 1,61 miliar dolar AS. Selanjutnya adalah mesin dan peralatan mekanis senilai 0,99 miliar dolar AS, serta plastik dan barang dari plastik senilai 0,92 miliar dolar AS. Tiongkok menjadi negara asal impor terbesar dengan 4,07 miliar dolar AS, diikuti Jepang (1,39 miliar dolar AS) dan Korea Selatan (1,35 miliar dolar AS).
Dengan nilai ekspor total 38,72 miliar dolar AS dan impor 11,91 miliar dolar AS, neraca perdagangan Jawa Barat mengalami surplus signifikan sebesar 26,81 miliar dolar AS selama periode Januari-Desember 2025. Jawa Barat mencatatkan surplus perdagangan dengan Amerika Serikat, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Namun, provinsi ini mengalami defisit perdagangan dengan Taiwan dan Tiongkok.
Sumber: AntaraNews