BPK Ungkap Jiwasraya Alami Gagal Bayar Akibat Beli Saham Emiten ini
Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Agung Firman Sampurna, mengungkapkan Jiwasraya terbukti melakukan penanaman modal di saham-saham berkualitas rendah. Sejumlah saham itu milik BJBR, SMBR, hingga PPRO.
Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Agung Firman Sampurna, mengungkapkan Jiwasraya terbukti melakukan penanaman modal di saham-saham berkualitas rendah. Sejumlah saham itu milik BJBR, SMBR, hingga PPRO.
"Saham berkualitas rendah dan mengalami penurunan nilai. BJBR, SMBR, PPRO, dan lain-lain," tutur Agung dalam pemaparan temuan BPK dan Kejaksaan Agung di Gedung BPK, Jakarta, Rabu (8/1).
BJBR ialah kode saham milik PT Bank BJB. Sementara, SMBR ialah kode saham milik perusahaan PT Semen Batu Raja dan PPRO ialah kode saham PT PP Properti, anak usaha BUMN perumahan PT PP.
Saham tersebut dianggap bernilai rendah sehingga merugikan investornya. Ini salah satu yang menjadi alasan mengapa Jiwasraya mengalami gagal bayar.
"Jiwasraya berinvestasi di saham berkualitas rendah dan tidak likuid, sehingga menyebabkan gagal bayar," tutur Agung.
Jiwasraya Pernah Diingatkan Soal Saham Gorengan
Agung menyebut bahwa BPK pernah mengingatkan perusahaan Jiwasraya terkait investasinya di saham berkualitas rendah.
"Kami sudah tindak lanjut, contoh rekomendasi kita itu kita minta Manajer Investasi Jiwasraya untuk alihkan saham gorengan ke saham atau instrumen lain yang lebih baik," tutur Agung di Gedung BPK, Rabu (8/1).
Rekomendasi tersebut pernah dipatuhi oleh Jiwasraya melalui pengalihan saham berkualitas rendah ke reksadana penyertaan terbatas (RDPT) senilai Rp9,7 triliun, tepatnya pada tahun 2016.
Namun, investasi ke saham 'gorengan', alias saham berkualitas rendah, tersebut tetap dilakukan kembali. "Ya, paham, ya. Masalahnya ditemukan, you (Jiwasraya) perbaiki, sudah diperbaiki, tapi dilakukan lagi. Tapi yang ini skalanya besar," tutur Agung.
Sementara, BPK juga masih mendalami aset Jiwasraya yang dapat dioptimalkan untuk menyelamatkan keuangan perusahaan. Namun tentunya, jika hal tersebut diketahui dikhawatirkan akan menimbulkan sentimen yang kurang baik.
"Ini ada dampaknya, ya. Ini tidak hanya membicarakan 1 entitas saja, tapi ada ribuan investor, jutaan nasabah," tutupnya.
Reporter: Athika Rahma
Sumber: Liputan6
(mdk/bim)