Bos Kadin tak yakin TPP akan terwujud di bawah pimpinan Donald Trump
"TPP ini kan motornya AS dan dilihat dari kebijakan Trump dalam kampanyenya kelihatannya TPP ini akan susah untuk berjalan."
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani mengaku pesimis perjanjian pasar bebas AS atau Trans Pacific Partnership (TPP) bisa berjalan setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).
Rosan pesimis karena Donald Trump telah menyatakan akan mengatur ulang sistem perdagangan di Amerika, termasuk perdagangan bebas. Hal ini dilakukan untuk melindungi industri di Amerika, sehingga pihaknya akan membatasi impor dari negara-negara lain.
"TPP ini kan motornya AS dan dilihat dari kebijakan Trump dalam kampanyenya kelihatannya TPP ini akan susah untuk berjalan. Saya baru pulang dari Australia dan mereka bilang TPP is dead (sudah mati), karena motornya saja berubah kepercayaan kepada TPP. Jadi TPP kelihatannya akan tidak berjalan," kata Rosan di Jakarta, Senin (21/11).
Meski begitu, jika TPP tidak berjalan, bukan berarti Indonesia akan kehilangan kesempatan untuk mengikuti perjanjian perdagangan bebas dengan negara lain. Sehingga, hal ini tidak akan memengaruhi kegiatan ekonomi nasional, di sektor perdagangan internasional.
"Dengan TPP melemah, free trade kita dengan negara-negara lain bisa kita dorong kita kembangkan untuk membuka pasar kita. Diharapkan akhir 2017 selesai free trade dengan Australia. Kemudian dalam setahun setengah juga diharapkan free trade dengan negara-negara Eropa bisa selesai karena poin-poinnya juga sudah disetujui," imbuhnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah masih belum memberikan keputusan untuk bergabung dalam TPP. Sebab, pemerintah masih mempelajari mengenai isi dari perjanjian tersebut.
"TPP itu kita belum pernah masuk. Kita hanya mengatakan bermaksud untuk ikut, tapi akan mempelajari dulu. Ya kita pelajari dulu. Nanti setelah kita pelajari ya kita ngasih pendapat," jelas Darmin saat diwawancara di kantornya.
Baca juga:
Kontribusi ekspor dari UMKM, RI kalah dari Thailand dan Filipina
Daya saing UMKM Indonesia butuh dukungan pelaku ekonomi kreatif
Bos Kadin: Rush money itu tidak benar dan jangan sampai terjadi
Penyebab proyek 35.000 MW tak tercapai di 2019 versi pengusaha
Ini tawaran pengusaha ke Jokowi percepat pembangunan infrastruktur