Bos Freeport curhat butuh Rp 24 triliun untuk bangun smelter
Freeport harus tetap membangun pabrik pengolahan dan pemurnian dalam kurun waktu 3 tahun.
Bos perusahaan tambang asal Amerika Serikat Freeport-McMoRan Copper and Gold, Richard C. Adkerson mendatangi kantor Menteri Perindustrian MS Hidayat. Dalam kunjungannya ini, bos Freeport curhat mengenai besarnya dana untuk pembangunan smelter.
Richard menyebut, setidaknya dibutuhkan investasi USD 2 miliar atau setara dengan Rp 24,3 triliun untuk membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) baru.
"Untuk membangun smelter baru yang besarnya seperti milik PT Smelting (di Gresik), butuh investasi besar yang diperkirakan lebih dari USD 2 miliar," kata Richard usai pertemuan di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (29/1).
Richard mengatakan, banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan smelter. Pihaknya berjanji menaati aturan yang berlaku di Indonesia. Richard mengakui, Freeport belum mengantongi izin ekspor barang hasil pertambangan sebelum bisa membangun smelter.
Jika tetap ingin mengekspor dalam bentuk konsentrat, konsekuensinya dikenakan bea keluar yang tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya.
Ditempat yang sama, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan akan tetap pada aturan yang ada. Freeport harus tetap membangun smelter dan dikenakan bea keluar selama proses pembangunan. "Saya bilang harus tetap bangun dalam 3 tahun," tutupnya.
Baca juga:
Menkeu tak ungkap lobi Freeport minta keringanan bea keluar
Usai temui Menkeu, bos Freeport McMoran bungkam
Freeport dan Newmont tak diberi izin ekspor konsentrat
Jero Wacik: Tak mau bangun smelter, miskin amat
Meski jam kerja usai, Chatib tetap terima kunjungan bos Freeport