Bos BKPM usul industri jamu dibuka untuk investor asing
"Kami akan mendiskusikan usulan tersebut dengan kementerian teknis."
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Franky Sibarani mengusulkan agar bidang usaha yang berkaitan dengan obat tradisional atau jamu dapat terbuka untuk asing. Dia melihat industri obat tradisional merupakan sektor potensial yang kini menjadi salah satu incaran investor asing.
"Usulan tersebut dilengkapi dengan argumentasi bahwa dengan dibukanya investasi untuk asing ini akan membawa teknologi baru pada pengolahan obat tradisional ke Indonesia untuk mendapatkan obat tradisional yang lebih berkualitas dan kesempatan untuk mengekspor obat tradisional dari Indonesia," ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (20/11).
Franky menjelaskan dalam panduan investasi di perpres 39 tahun 2014, bidang usaha terkait industri obat tradisional diperuntukkan 100 persen PMDN. Dalam usulan yang masuk ke BKPM agar ada peluang bagi investor asing untuk turut mengembangkan Industri obat tradisional.
Franky akan mendiskusikan rencana ini dengan kementerian teknis dan memperhatikan masukan dari para stakeholder. "Kami akan mendiskusikan usulan tersebut dengan kementerian teknis lainnya dengan memperhatikan masukan pemangku kepentingan lainnya," paparnya.
Dari data yang disampaikan oleh Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat bahan alam Indonesia (GP Jamu), jamu tradisional tidak hanya diproduksi untuk konsumsi nasional semata, namun juga berpotensi untuk pasar ekspor.
"Tentu tidak hanya diproduksi untuk konsumsi dalam negeri, tapi ini punya potensi untuk di ekspor ke Malaysia, Korea Selatan, Filipina, Hongkong, Taiwan, Afrika Selatan, Nigeria, Rusia dan beberapa negara lainnya," tutupnya.
Baca juga:
Mendag Rachmat dorong jamu dan bakso Indonesia kuasai pasar dunia
Jamu Tolak Angin disebut bisa sebabkan kanker di Amerika Serikat
BPOM jamin jamu Tolak Angin aman dikonsumsi
Produk jamu Indonesia ini jadi primadona di Afrika
Neraca dagang Indonesia defisit, Jokowi serius kejar investasi China
Ketimbang Singapura, anggota APEC lebih pilih investasi di Indonesia