BKPM: PHK buruh Panasonic & Toshiba tak sampai 2.000, cuma 785 orang
"Info yang saya terima Panasonic hanya 425 saja, Toshiba 360 orang."
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperkirakan sekitar 2.500 buruh terancam dipecat, menyusul tutupnya pabrik dua perusahaan produk elektronik yakni Toshiba di Cikarang, Jawa Barat dan Panasonic di Cikarang dan Pasuruan Jawa Timur.
Untuk penutupan pabrik Panasonic saja, KSPI memperkirakan 1.600 karyawannya bakal dirumahkan.
Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), Franky Sibarani membantah kabar pemecatan ribuan karyawan pabrik elektronik tersebut. Franky menegaskan, Panasonic hanya melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada 425 pekerja, sedangkan Toshiba hanya 360 pekerja.
"Harus diklarifikasi, info yang saya terima Panasonic hanya 425 saja, Toshiba 360, artinya enggak sebesar yang muncul di media, yang jumlahnya 2.145," kata Franky di Kantor BKPM, Jakarta, Selasa (9/2).
Menurut Franky, berbagai alasan menjadi dasar tutupnya pabrik-pabrik tersebut. Franky mengungkap salah satunya adalah pangsa pasar. "Alasan perusahaan tutup kan macam-macam, ada perusahaan seperti Ford alasannya karena marketnya," ucap Franky.
Menurutnya, pengurangan tenaga kerja dalam kondisi perekonomian seperti saat ini memang tidak bisa dihindari. Namun, Franky memastikan pemerintah melakukan berbagai cara untuk dapat meningkatkan minat investasi di Indonesia agar serapan tenaga kerja terus meningkat.
"Pengurangan tenaga kerja pasti terjadi, tapi peran pemerintah adalah meningkatkan investasinya supaya serapan tenaga kerja tetap terjadi. Yang BKPM lakukan adalah permudah investasi agar terbuka lapangan kerja baru," tegas Franky.
Baca juga:
Cegah dampak PHK massal, pemerintah fokus sertifikasi pekerja lokal
Fakta-fakta serbuan pekerja asing dari China di Indonesia
Tangkal serbuan asing, Aher minta pekerja konstruksi bersertifikat
Bos BKPM: Isu PHK ribuan buruh berdampak buruk pada ekonomi
Jakarta digoyang isu PHK massal, Solo butuh ratusan ribu buruh
Digoyang isu PHK, Menteri Hanif sebut banyak industri butuh karyawan