Biaya kereta cepat membengkak, Menko Luhut tak khawatir sepanjang utang mampu dibayar
Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, menilai melambungnya nilai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tidak menjadi masalah. Sepanjang masih masuk dalam hitungan kemampuan membayar utang kepada China Development Bank. Menko Luhut juga berharap, kenaikan nilai proyek kali ini adalah yang terakhir.
Nilai proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung bertambah dari semula USD 5,9 miliar menjadi USD 6,071 miliar. Salah satu penyebab membengkaknya nilai proyek tersebut adalah naiknya nilai asuransi proyek dan komponen debt service reserve account (DSRA).
Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, menilai melambungnya nilai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tidak menjadi masalah. Sepanjang masih masuk dalam hitungan kemampuan membayar utang kepada China Development Bank (CDB).
"Ada beberapa masalah, tapi tidak jadi penting, yang penting adalah selama 50 tahun itu kita mengembalikan itu," kata Menko Luhut saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Selasa (20/2).
Menko Luhut juga berharap, kenaikan nilai proyek kali ini adalah yang terakhir kalinya. "Kita berharap tidak ada lagi."
Menko Luhut menyatakan, kereta cepat Jakarta-Bandung akan menjadi salah satu infrastruktur yang mampu mengubah wajah Pulau Jawa beberapa tahun mendatang. "Kalau menurut saya, kita dalam 30 tahun ke depan, Jawa sudah berubah. Jadi kita jangan hanya melihat 5-10 tahun saja, jadi lihat juga 20 -30 tahun ke depan," ujarnya.
Untuk itu, Menko Luhut menegaskan beberapa kendala teknis yang dihadapi oleh proyek kereta cepat tersebut jangan dianggap sebagai suatu kemunduran. Sebab, itu menandakan bahwa pemerintah ingin mengkaji betul proyek kereta cepat.
Menko Luhut mengungkapkan, saat ini pemerintah tengah melakukan berbagai upaya untuk menekan serendah mungkin biaya proyek kereta cepat. Bahkan, jika memungkinkan kereta cepat tidak hanya sampai ke Bandung tapi ke beberapa kota besar lainnya di Pulau Jawa.
Sebagai informasi, Kereta cepat Jakarta-Bandung tersebut memiliki platform teknologi EMU China dengan kecepatan 350 Km/Jam. Namun, akan disesuaikan dengan jarak tempuh sepanjang 142 Km menjadi 200 Km per jam. Sehingga waktu tempuh Jakarta-Bandung hanya akan memakan waktu sekitar 45 menit.
Kereta cepat nantinya memiliki empat stasiun, yakni Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Walini dan Stasiun Tegalluar (Bojongsoang, Kabupaten Bandung). Proyek ini juga akan dilengkapi dengan kawasan terintegrasi dengan moda transportasi massal atau transit oriented development (TOD) di tiga titik yaitu Karawang, Walini, dan Tegalluar. Nantinya, kereta cepat akan terintegrasi dengan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Bandung Raya.
Baca juga:
Jalur KA cepat Jakarta-Bandung punya 22 titik kritis, salah satunya terowongan Halim
Soal tambahan rute kereta cepat ke bandara, KCIC fokus Jakarta-Bandung terlebih dulu
Pembebasan lahan kereta cepat terhambat penyelesaian RTRW nasional di April 2018
Membengkak lagi, nilai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung jadi USD 6,071 miliar
KCIC: Proses pembangunan kereta cepat tergolong cepat, sudah diakui China
Skema pembiayaan kereta cepat Jakarta-Bandung belum temui titik temu
Pembebasan lahan untuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung selesai bulan April