BI Perkuat Kedaulatan Rupiah di Perbatasan Entikong Melalui Lentera Batas Negeri 2026
Bank Indonesia terus mengukuhkan Kedaulatan Rupiah di Perbatasan Indonesia-Malaysia, khususnya di Entikong, melalui program Lentera Batas Negeri 2026 yang menjangkau masyarakat 3T dan mendorong ekonomi lokal.
Bank Indonesia (BI) secara konsisten memperkuat Kedaulatan Rupiah di Perbatasan Indonesia-Malaysia. Upaya ini difokuskan pada kawasan perbatasan, termasuk di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Melalui program Layanan Perbankan Nusantara (Lentera) Batas Negeri 2026, BI bertekad memperluas jangkauan layanan kebanksentralan hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T).
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Reynaldi Akbar Ariesha, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan strategi penting. Tujuannya adalah untuk meningkatkan literasi keuangan, mendorong digitalisasi sistem pembayaran, serta memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat di perbatasan. Wilayah perbatasan memiliki peran strategis sebagai garda terdepan Indonesia dan pintu gerbang aktivitas ekonomi lintas negara, sehingga membutuhkan dukungan finansial yang kuat dan inklusif.
Lentera Batas Negeri 2026 memastikan masyarakat perbatasan mendapatkan akses terhadap uang Rupiah layak edar dan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah. Selain itu, program ini juga memfasilitasi pemanfaatan sistem pembayaran digital melalui QRIS dan QRIS Cross Border, serta menyediakan berbagai layanan publik yang esensial untuk mendukung kegiatan ekonomi lokal.
Memperkuat Kedaulatan Rupiah dan Akses Keuangan
Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat terus berkomitmen dalam memperkuat Kedaulatan Rupiah di Perbatasan. Hingga Juni 2026, Bank Indonesia Kalimantan Barat telah sukses melaksanakan layanan Kas Keliling di 12 titik wilayah 3T. Total nilai penukaran uang dalam program ini mencapai Rp2,78 miliar, menunjukkan tingginya animo masyarakat terhadap uang layak edar.
Selain itu, melalui program Ekspedisi Rupiah Berdaulat, BI juga menjangkau lima pulau terluar di Kalimantan Barat. Pulau-pulau tersebut meliputi Pulau Karimata, Pulau Maya, Pulau Cempedak, Pulau Pelapis, dan Padang Tikar. Layanan penukaran uang di pulau-pulau ini berhasil mencapai total Rp15,6 miliar, memastikan ketersediaan Rupiah di wilayah terpencil.
Pelaksanaan Lentera Batas Negeri 2026 di Entikong merupakan kelanjutan dari kesuksesan program serupa. Sebelumnya, program ini telah berhasil digelar di PLBN Aruk, Kabupaten Sambas, pada tahun 2025. Pengalaman dari Aruk menjadi dasar perluasan cakupan layanan di Entikong, yang dilakukan melalui sinergi erat dengan berbagai pihak terkait.
Sinergi tersebut melibatkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Pemerintah Kabupaten Sanggau, Badan Nasional Pengelola Perbatasan, perbankan, serta berbagai instansi terkait lainnya. Kolaborasi ini penting untuk memastikan program dapat berjalan efektif dan memberikan dampak positif yang maksimal bagi masyarakat perbatasan.
Edukasi Literasi Keuangan dan Digitalisasi Pembayaran
Aspek edukasi menjadi fokus utama Bank Indonesia dalam memperkuat literasi keuangan masyarakat. Sepanjang tahun 2026, BI Kalimantan Barat telah menyelenggarakan 74 kegiatan sosialisasi program Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah. Kegiatan ini berhasil menarik partisipasi lebih dari 22 ribu peserta dari berbagai kalangan, menunjukkan minat yang besar terhadap pemahaman Rupiah.
Selain itu, BI juga aktif mendorong pemanfaatan sistem pembayaran digital. Penggunaan QRIS dan QRIS Cross Border menjadi salah satu prioritas untuk memfasilitasi transaksi yang cepat, aman, dan efisien. Inisiatif ini mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk transaksi lintas negara di kawasan perbatasan, sejalan dengan upaya penguatan Kedaulatan Rupiah di Perbatasan.
Perkembangan penggunaan QRIS di Kalimantan Barat menunjukkan tren yang sangat positif. Hingga Mei 2026, jumlah merchant QRIS telah melampaui 539 ribu, dengan mayoritas adalah pelaku usaha mikro. Angka ini mencerminkan adopsi transaksi digital yang semakin meluas, memberikan kemudahan bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Bank Indonesia juga menghadirkan Rupiah Corner Perbatasan sebagai sarana edukasi interaktif. Melalui fasilitas ini, masyarakat dapat mempelajari ciri keaslian uang Rupiah, memahami peran Bank Indonesia, serta mengikuti perkembangan sistem pembayaran digital terkini. Ini adalah langkah konkret untuk meningkatkan pemahaman dan kepercayaan publik terhadap mata uang nasional.
Dukungan Ekonomi Masyarakat Perbatasan dan Sinergi Lintas Sektor
Selama pelaksanaan Lentera Batas Negeri 2026, masyarakat Entikong memperoleh beragam layanan penting. Salah satunya adalah Gerakan Pangan Murah yang menyediakan 1.000 paket bahan pangan. Program ini bertujuan menjaga keterjangkauan harga dan mengendalikan inflasi, memberikan manfaat langsung bagi rumah tangga.
Lentera juga menghadirkan Pasar Batas Nusantara, sebuah inisiatif yang melibatkan 23 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan Rumah BUMN Sanggau. Selama kegiatan berlangsung, para pelaku UMKM berhasil menjual 131 produk dengan total omzet mencapai Rp4,54 juta. Ini tidak hanya meningkatkan pendapatan UMKM tetapi juga memperluas promosi produk lokal kepada masyarakat dan pelintas batas.
Program Sinergi Layanan Kas (Silakas) turut memberikan layanan terpadu kepada masyarakat. Layanan ini mencakup keimigrasian, Samsat Go Kecamatan, sosialisasi keselamatan transportasi, hingga pemeriksaan kesehatan gratis. Inisiatif ini menunjukkan komitmen untuk menyediakan layanan publik yang komprehensif di wilayah perbatasan.
Selain itu, kegiatan Business Matching UMKM mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli, distributor, investor, dan lembaga pembiayaan. Pertemuan ini membuka peluang kemitraan baru dan pengembangan usaha bagi UMKM lokal. Melalui berbagai kolaborasi ini, Bank Indonesia optimistis dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan dan menegaskan peran wilayah perbatasan sebagai beranda ekonomi Indonesia.
Sumber: AntaraNews