BI: Defisit neraca perdagangan bikin Rupiah terus melemah
Defisitnya neraca transaksi berjalan membuat kebutuhan dana masih jauh lebih besar dari tersedia valuta asing.
Bank Indonesia mengungkapkan nilai tukar Rupiah terhadap Amerika Serikat (USD) masih rentan tergerus akibat gejolak perekonomian global. Selain itu, neraca transaksi berjalan Indonesia juga masih mengalami defisit (current account defisit/CAD).
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, masih defisitnya neraca transaksi berjalan Indonesia membuat kebutuhan dana di Tanah Air masih jauh lebih besar dari tersedianya dana valuta asing.
"Kebutuhan dana kita lebih besar dari tersedianya dana valuta asing. Sehingga kalau di luar ada perubahan itu berdampak pada Indonesia," kata Agus di Gedung BI, Jakarta, Rabu (23/3).
Agus mencontohkan, ledakan yang terjadi di Brussels kemarin yang langsung menekan kondisi perekonomian di Eropa, kemudian membaiknya kondisi perekonomian di AS, serta harga minyak dunia yang kembali membaik lantaran Arab Saudi membatasi produksi minyaknya langsung membuat nilai tukar Rupiah terkontraksi.
Kendati demikian, Agus menegaskan pihaknya akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah tetap berada dalam posisi seimbang.
"Arab Saudi kelihatannya akan membatasi produksi minyaknya, membuat harga minyak di dunia tidak terlalu tertekan malah ada sedikit naik. Itu langsung juga membuat ekonomi dan membawa nilai tukar yang berubah," pungkas dia.
Baca juga:
Darmin: Neraca perdagangan surplus tanda ekonomi RI membaik
Februari 2016, neraca perdagangan RI surplus USD 1,14 M
Januari, neraca perdagangan Indonesia surplus USD 50 juta
BPS: Teror bom di Sarinah tak berdampak pada perdagangan
2015, neraca dagang Indonesia surplus USD 7,52 miliar
Ekonom tak khawatir defisit neraca perdagangan November 2015
November, BPS catat defisit neraca dagang Indonesia USD 346,4 juta