Belanja pulsa saat Lebaran dongkrak ekonomi di triwulan III-2016
"Informasi dan komunikasi tumbuh 9,2 persen karena naiknya permintaan layanan data terutama Lebaran karena lebaran masih masuk kuartal III."
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Indonesia triwulan III 2016 tumbuh 5,02 persen secara tahunan (yoy). Sumber pertumbuhan ekonomi masih didominasi konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi dari sisi pengeluaran dan lapangan usaha.
Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, salah satu pendorong tumbuhnya ekonomi dalam negeri adalah meningkatnya pembelian pulsa ponsel saat lebaran Juli lalu.
"Informasi dan komunikasi tumbuh 9,2 persen karena naiknya permintaan layanan data terutama Lebaran karena lebaran masih masuk kuartal III," ujar dia di kantornya, Jakarta, Senin (7/11).
Suhariyanto merinci, pendorong pertumbuhan ekonomi berdasarkan lapangan usaha terdiri industri jasa keuangan dan asuransi tumbuh 8,83 persen, di mana didorong kenaikan kredit sebesar 8,56 persen dan pendapatan operasional bunga naik 5,16 persen.
Kemudian, industri pengolahan tumbuh 4,56 persen, industri pertanian 2,81 persen dan industri perdagangan 3,65 persen secara tahunan.
"Seluruh sektor industri tumbuh positif di kuartal III 2016, bahkan industri pertambangan dan penggalian yang sudah sejak beberapa tahun mengalami pertumbuhan negatif sekarang sudah positif seiring peningkatan produksi bijih besi, seperti emas dan tembaga," ungkapnya.
Sedangkan menurut pengeluaran, dari konsumsi rumah tangga 2,70 persen, investasi swasta 1,30 persen, dan lainnya 1,02 persen.
Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III ini mencapai 55,32 persen dengan pertumbuhan 5,01 persen (YoY). PMTB memberikan sumbangsih 31,98 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan 4,06 persen.
"Konsumsi Rumah Tangga tumbuh signifikan karena kelompok makanan minuman, restoran, pendidikan, kesehatan, transportasi dan komunikasi. Investasi tumbuh positif didorong pertumbuhan bangunan dan konstruksi, mesin dan kendaraan domestik," tutur dia.
Sementara ekspor memberikan kontribusi 17,74 persen dengan pertumbuhan terkontraksi 6 persen. Konsumsi pemerintah pun mencatatkan pertumbuhan negatif 2,97 persen dengan kontribusi ke PDB 8,97 persen, konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh 6,65 persen dengan kontribusi 1,15 persen, serta impor minus 3,87 persen pertumbuhannya dan kontribusi negatif 16,91 persen.
"Kontraksi di konsumsi pemerintah pada seluruh realisasi belanja pegawai, belanja barang, dan belanja bantuan sosial. Termasuk ekspor dan impor yang masih terkontraksi lebih dalam."
Lalu, struktur pertumbuhan ekonomi triwulan III 2016, pulau Jawa masih menjadi wilayah kontribusi terbesar mencapai 58,4 persen. "Kita lihat tidak ada yang berubah. Pulau Jawa masih menjadi yang paling besar. Untuk bisa mengubah itu, masih membutuhkan waktu yang lama," ungkapnya.
Disusul, pulau Sumatera memiliki kontribusi terbesar kedua yakni 22,02 persen, lalu Kalimantan 7,72 persen, Sulawesi 6,15 persen, Bali dan Nusa tenggara sebesar Rp3,18 persen, serta Maluku dan Papua sebesar 2,53 persen.
Kendati begitu, menurutnya pertumbuhan ekonomi di wilayah Timur masih lebih besar meskipun sumbangsihnya secara nasional masih kecil. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Maluku dan Papua di triwulan III 2016 sebesar 13,72 persen.
Baca juga:
Jokowi sebut pertumbuhan kuartal III 2016 sudah melebihi ekspektasi
Pengusaha soal pertumbuhan ekonomi: Tantangan masih sangat tinggi
BPS: Ekonomi Indonesia tumbuh 5,02 persen di triwulan III-2016
Ini cara Sri Mulyani kejar pertumbuhan ekonomi 6 persen di 2018
Presiden Jokowi patok pertumbuhan ekonomi bisa 6 persen di 2018