Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini cara Sri Mulyani kejar pertumbuhan ekonomi 6 persen di 2018

Ini cara Sri Mulyani kejar pertumbuhan ekonomi 6 persen di 2018 sri mulyani. ©2015 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo menginginkan pertumbuhan ekonomi minimal 6 persen di 2018. Untuk itu, Jokowi meminta kepada semua menteri untuk segera menyiapkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2018.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan, sumber yang paling besar dan paling bisa diandalkan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 6 persen yakni investasi swasta.

"Bagi pemerintah, untuk mencapai 6,1 persen memang akan dijaga agar defisit APBN tidak terlalu besar hanya karena kita ingin menjadi sumber pertumbuhan ekonomi," kata Sri Mulyani seperti ditulis Antara, Rabu (2/11).

Sumber yang paling besar dalam hal ini adalah untuk investasi yang berasal dari swasta baik berupa Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang bisa mencapai lebih dari Rp 800 triliun.

Pihaknya juga mengharapkan perbankan dan capital market yang bisa menghasilkan sumber dana investasi mencapai lebih dari Rp 1.300 triliun.

"Dan dari sisi BUMN yang harus melakukan belanja modal diharapkan mendekati Rp 700 triliun. Sehingga tidak semua tekanan untuk mencapai pertumbuhan 6,1 persen adalah berasal dari pemerintah," katanya.

Untuk 2018, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta dilakukan persiapan sedini mungkin agar Indonesia mampu mencapai pertumbuhan ekonomi di atas enam persen.

Dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 4,8 persen pada 2015 dan 5,0 persen (proyeksi) pada 2016.

"Presiden mengharapkan kita bisa meningkatkan momentum pertumbuhan sehingga kita bisa mengakselerasi pengurangan kemiskinan, pengurangan kesenjangan, dan penciptaan lapangan kerja," katanya.

Oleh karena itu pada 2018, kata dia, kalau pertumbuhan ekonomi harus di atas 6 persen maka perlu diterapkan kebijakan dan tindakan khusus.

Dia mengatakan perekonomian global yang masih lemah menjadikan sumber pertumbuhan ekonomi yang berasal dari ekspor diperkirakan hanya akan menyumbang "gross" sekitar 1 persen atau hanya lebih di atas 0 persen.

"Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi adalah yang berasal dari dalam negeri, dan dalam hal ini peranan investasi dan konsumsi menjadi sangat penting, baik konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah," katanya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP