Bappenas: Program Kebun Pangan Perempuan Strategis untuk Kesejahteraan Keluarga
Program Kebun Pangan Perempuan dinilai strategis oleh Bappenas karena menyasar aspek hilir pembangunan, berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga, dan pemberdayaan perempuan di Indonesia.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Febrian Alphyanto Ruddyard, menyatakan program Kebun Pangan Perempuan memiliki nilai strategis. Program ini menyasar aspek hilir pembangunan yang berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga dan komunitas. Pernyataan ini disampaikan saat menerima Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronika Tan.
Pertemuan tersebut membahas Program Kebun Pangan Perempuan sebagai upaya terintegrasi. Tujuannya memperkuat ketahanan pangan keluarga, pemberdayaan perempuan, serta pembangunan desa berkelanjutan. Inisiatif ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung masyarakat.
Program ini juga berpotensi mendukung penyediaan bahan pangan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hal ini dilakukan melalui penguatan pasokan pangan lokal berbasis komunitas. Pilot program telah dimulai di beberapa kabupaten.
Memperkuat Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Perempuan
Program Kebun Pangan Perempuan secara fundamental bertujuan memperkuat ketahanan pangan di tingkat keluarga. Melalui inisiatif ini, perempuan diberdayakan untuk mengelola sumber daya lokal. Ini menciptakan kemandirian pangan yang berkelanjutan.
Kolaborasi antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Yayasan Bambu Lestari, serta berbagai mitra telah memulai pilot program. Program percontohan ini menunjukkan potensi besar untuk replikasi. Fokusnya adalah pada dampak positif terhadap komunitas.
Rencananya, program Kebun Pangan Perempuan akan diperluas ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, Sumatera Barat, dan Aceh. Perluasan ini seiring dengan penguatan integrasi kebijakan dan kelembagaan. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk pemerataan pembangunan.
KemenPPPA memiliki peran signifikan dalam aspek hilir program ini. Penguatan pendekatan mainstreaming isu pemberdayaan perempuan di berbagai kementerian dan lembaga menjadi krusial. Isu ini bersifat lintas sektor dan berdampak luas terhadap pembangunan nasional.
Integrasi Kebijakan dan Pembangunan Berkelanjutan
Program Kebun Pangan Perempuan juga selaras dengan agenda ketahanan iklim dan pembangunan berwawasan lingkungan. Pemanfaatan bambu sebagai material ramah lingkungan adalah salah satu contohnya. Ini mendukung praktik pertanian yang lestari.
Penguatan sistem pencatatan pangan lokal serta pengelolaan lahan berbasis komunitas juga menjadi bagian integral program. Inisiatif ini mendorong praktik berkelanjutan. Hal ini penting untuk menjaga ekosistem dan sumber daya alam.
Febrian Alphyanto Ruddyard menggarisbawahi target pengembangan 20 ribu titik Kebun Pangan Perempuan secara kumulatif dalam empat tahun ke depan. Target ambisius ini menunjukkan skala dampak yang diharapkan. Ini memerlukan koordinasi yang kuat antar lembaga.
Bappenas berkomitmen memfasilitasi koordinasi antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Koordinasi ini memastikan program terintegrasi dalam perencanaan pembangunan nasional. Tujuannya adalah memberikan dampak berkelanjutan bagi perempuan, keluarga, dan desa.
Sumber: AntaraNews